Kisah dari Taman Bacaan, 5 Sikap Penting di Tahun 2026

Seorang tamu berkunjung ke TBM Lentera Pustaka di awal tahun baru 2026 ini. Setelah ngobrol banyak tentang aktivitas taman bacaan dan Gerakan literasi, sang tamu bertanya sederhana, “apa yang seharusnya dilakukan di tahun baru 2026 untuk kita?”.

 

Pertanyaaan sederhana, tentu jawabnya tidak sederhana kan. Setelah bicara panjang lebar, pada akhirnya sampailah pada Kesimpulan. Bahwa ada fase dalam hidup yang begitu penting tapi sulit dilakukan. Yaitu kita berhenti mengejar tepuk tangan dan mulai mendengarkan detak hati sendiri. Agar hidup terasa lebih pelan, tapi justru lebih utuh. Bukan karena masalah hilang, melainkan karena cara kita menyikapinya sudah berubah. Kita yang kemarin, berbeda dengan yang hari ini.

 

Jadi di tahun 2026 yang baru ini, apa yang seharusnya kita lakukan. Maka jawabnya, mulailah untuk masuk ke fase menikmati hidup bukan hanya menjalaninya. Syaratnya harus punya komitmen untuk mulai bersikap dan berubah, yaitu untuk 5 (lima) hal ini harus dilakukan:

 

  1. Nggak lagi kepo urusan orang lain, fokus hanya ke diri sendiri. Dulu, hidup terasa seperti duduk di warung sambil mengamati lalu lintas orang lain: siapa lewat duluan, siapa lebih cepat, siapa kelihatan sukses. Sekarang, pandangan kita kembali ke setir hidup sendiri. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sadar energi kita terbatas. Fokus ke diri sendiri bikin pikiran lebih ringan dan langkah lebih pasti. Coba deh …

 

2. Sibuk memperbaiki hidup, bukan sibuk membandingkan diri. Kita harus berhenti menghitung keberhasilan orang lain dan mulai menghitung progress diri sendiri. Seperti tukang kebun yang tidak pernah iri pada kebun tetangganya, tapi rajin menyiram tanamannya sendiri. Kita paham, membandingkan hanya bikin capek, sementara memperbaiki diri pelan-pelan benar-benar dapat mengubah hidup.

 

3. Nggak semua harus disukai, kita tetap jalan meski ada yang membenci. Kita harus sadar bahwa hidup bukan lomba popularitas. Seperti buah di pasar, ada yang suka manis, ada yang cari asam, maka tidak mungkin memuaskan semua orang. Kita tetap melangkah meski ada yang tidak setuju, karena arah hidup kita ditentukan kompas batin kita sendiri, bukan suara paling keras di luar sana.

 

4. Hati lebih bersih, nggak iri, nggak julid, nggak dengki. Perasaan negatif perlahan luruh. Bukan karena kita suci, tapi karena lelah menyimpan racun di hati sendiri. Iri itu seperti meminum racun sambil berharap orang lain sakit. Saat kita melepaskannya, tidur lebih nyenyak, makan terasa enak., senyum lebih jujur, dan hubungan terasa lebih hangat.

 

5. Merasa cukup dan bersyukur, tanpa perlu pamer ke siapa pun. Kebahagiaan kita tidak lagi butuh panggung. Seperti minum teh hangat di sore hari cukup kita yang tahu nikmatnya. Kita bersyukur dalam diam, menikmati tanpa harus membuktikan. Rasa cukup membuat hidup terasa lapang, meski isinya sederhana.

 

Bila kelima hal di atas sudah mampu dilakukan, maka sisanya adalah fokus pada dua hal. Yaitu tersulah berbuat baik dan menebar manfaat di manapun. Misalnya mengabdi jadi relawan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Namanya mengabdi di taman bacaan, tentu butuh komitmen dan konsistensi sepenuh hati. Bersikap tanpa pamrih dan Ikhlas. Tapi percayalah, setiap kebaikan yang kita perbuat pasti akan kembali kepada kita yang melakukannya, dan sebaliknya.

 

Ketahuilah, menikmati hidup bukan tentang punya segalanya. Tapi berhenti merasa kurang. Saat fokus kita kembali ke diri sendiri, hati kita lebih bersih, dan Langkah kita tidak lagi tergantung penilaian orang lain. Dan di situlah hidup terasa benar-benar hidup. Teruslah berjalan tenang, sadar, dan penuh Syukur sambil tetap berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *