Literasi Keluarga: Ini 5 Kriteria Calon Ayah yang Penting

Zaman begini, jadi ayah nggak gampang. Selain mampu menafkahi, ayah juga harus punya tanggung jawab terhadap anak-anak dan keluarganya. Membangun keluarga, nggak lagi cukup cuma modal cinta. Modal uang doang apalagi, memang uang bisa apa? Makanya, banyak cewek yang sangat selektif milih laki-laki sebagai pasangan hidup. Milih laki-laki yang bisa jadi teman hidup sepanjang hayat di sisa usia, memang nggak mudah. Apalagi banyak contoh di sekitar kita yang bisa jadi Pelajaran.

 

Tapi, mau sampai kapan memilih suami atau calon ayah? Apa kriterianya dan apa pula yang harus jadi pedangan? Jangan terlampau ketat seleksi laki-laki, nanti nggak dapat-dapat. Sederhana saja, asal ada laki-laki yang punya 5 hal ini dalam dirinya, maka jangan ragu untuk jadikan dia sebagai calon ayah dari anak-anakmu.  Ini 5 hal yang harus dimiliki laki-laki calon ayah:

 

  1. ​Kematangan emosi dan ‘kesabaran yang tinggi. ​Dunia anak-anak penuh dengan tumpahan susu anak, main yang berantakan, dan tangisan tengah malam. Laki-laki yang bisa mengelola emosinya saat stres adalah “harta karun”. ​Cirinya: Ia tidak mudah meledak saat rencana berantakan, mampu tetap tenang di bawah tekanan, dan memiliki stok sabar yang luas saat menghadapi kesulitan.

Kenapa Penting: Ayah yang stabil secara emosional akan menciptakan lingkungan yang aman (secara psikologis) bagi anak untuk tumbuh tanpa rasa takut.

  1. Integritas, perkataannya selaras dengan perbuatan. ​Anak-anak tidak belajar dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang kita lakukan. Banyak laki-laki yang omongannya bagus tapi realitasnya jelek. ​Cirinya: Ia menepati janji (sekecil apa pun), jujur meskipun sulit, dan memiliki prinsip hidup yang jelas.

Kenapa Penting: Ia akan menjadi role model pertama bagi anak-anak. Laki-laki yang berintegritas akan mengajarkan anak-anak tentang nilai kejujuran dan kehormatan lewat teladan nyata.

  1. ​Rasa empati dan sifat mengayomi. ​Perhatikan bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan apa pun, seperti orang tua, asisten rumah tangga, atau hewan jalanan. ​Cirinya: Ia memiliki sisi lembut, bisa menunjukkan kasih sayang secara terbuka, dan peka terhadap perasaan orang di sekitarnya.

​      Kenapa Penting: Ayah yang empati akan mampu membangun kedekatan emosional dengan anaknya, mendengarkan mereka tanpa menghakimi, dan memberikan pelukan saat mereka sedang rapuh.

  1. Semangat belajar dan rendah hati. ​Tidak ada sekolah formal untuk menjadi orang tua. Seorang laki-laki harus mau belajar dari nol tentang cara mengasuh anak, belajar bertanggung jawab pada keluarganya. ​Cirinya: Ia tidak merasa “paling tahu”, mau menerima masukan, dan tidak gengsi untuk belajar hal-hal baru (termasuk cara mengganti popok atau menggendong bayi).

Kenapa Penting: Menjadi orang tua adalah proses adaptasi terus-menerus. Laki-laki yang rendah hati akan tumbuh bersama anak-anaknya dan tidak kaku dalam menerapkan pola asuh.

  1. Mentalitas “rekan tim”. Laki-laki yang tidak memandang mengurus anak sebagai “tugas istri”, melainkan sebagai tugas bersama. ​Cirinya: tanpa diminta, ia berinisiatif membantu pekerjaan rumah tangga. Ia memandang hubungan kalian sebagai kemitraan sejajar di mana beban dibagi dua.

Kenapa Penting: parenting itu melelahkan. Memiliki suami yang siap “turun tangan” dan bekerja sama sebagai tim akan mencegah burnout pada ibu dan memastikan anak mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya.

 

Kelima hal itu penting sebagai kriteria laki-laki yang layak menjadi ayah. Kalau soal uang bisa dicari bersama, kalau soal gaya hidup bisa disesuaikan. Tapi zaman begini, banyak laki-laki yang omongannya berneda dengan kelakukannya. Bagus juga sih buat referensi kamu yang mau jadi ibu dari anak-anakmu, dan punya ayah yang bisa “bermain peran bersama” untuk anak-anak kita. Salam literasi!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *