Setelah berdiri dan memberi nasihat di depan anak-anak TBM Lentera Pustaka, saya baru tersadar. Di antara riuh yang tidak pernah benar-benar memberi jeda, di antara kesibukan yang membuat banyak wara-wiri hingga berjuang untuk memenuhi obsesi. Ternyata, ada saat ketika jiwa memilih diam.
Bukan karena lemah, melainkan karena rindu memahami dirinya sendiri. Jiwa yang butuh keheningan.
Hening ya hening, mengambil jarak dari hiruk-pikuk. Menjauh dari keramaian, bising dan gaduh yang sering dibuat oleh pikiran sendiri. Hening bukan tanda kita sedang kehilangan arah. Tapi bukti bahwa kita sedang mendengarkan suara hati
yang selama ini tertutup oleh bising dunia. Proses untuk perlahan kita kembali mengenali diri, menemukan makna yang sempat terabaikan, dan melangkah lagi dengan arah yang lebih jujur dan tenang.
Hening di taman bacaan. Tidak lagi bahas soal karier, pangkat atau status sosial. Biar dipandang gimana gitu sama orang banyak. Hening juga bikin tidak tertarik pada kemewahan atau pujian orang. Hening hanya untuk pulang ke diri sendiri. Menjadi apa adanya, bukan ada apanya.
Saat hening, kita diajarkan untuk memfasilitasi diri sendiri. Tidak lagi urus ambisi, apalagi gengsi. Tapi fokus pada emosi diri sendiri. Pulang ke diri sendiri adalah perjalanan sunyi yang menuntut keberanian. Keberanian untuk menatap luka tanpa menyangkal, menerima kekurangan tanpa menghakimi, dan mengizinkan hati beristirahat tanpa rasa bersalah. Hening dan hening.
Hening, mau menerima diri apa adanya. Pelan namun tulus untuk dirinya sendiri. Sebagai kekuatan baru untuk lebih baik, lebih bermanfaat. Bukan untuk berlari lebih cepat atau mengalahkan diri sendiri. Tapi untu melangkah dengan penuh sadar,
menjaga diri agar tak tersesat dalam tuntutan, dan hidup selaras dengan ritme jiwa yang akhirnya menemukan tenangnya sendiri, utuh, dan damai.
Hening itu menyehatkan, lebih sehat daripada jutaan pikiran yang dibangun hanya untuk meraih validasi atau pengakuan orang lain. Terus bila sudah diakui orang lain, apa diri sendiri mengakuinya dengan jujur? Maka heninglah, agar menjadi lebih jernih. Salam literasi!











