Ada Kepuasan Batin yang Tidak Bisa Dibeli dengan Uang

Ada kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika kita komitmen berkiprah di aktivitas sosial. Sama seperti ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika kita menikmati hasil dari jerih payah sendiri. Sekalipun mungkin kata orang lain, jalannya lebih lambat dan prosesnya berliku. Bahkan mungkin lelahnya lebih terasa. Namun, di setiap tetes keringat dan lelah bersosial, selalu ada harga diri yang terjaga.

 

Selalu ada kepuasan batin saat berkiprah di taman bacaan. Sesuatu yang lahir dari makna, bukan dari materi. Kenapa? Saat berkiprah di taman bacaan memberi rasa puas karena merasa berguna bagi orang lain. Melihat anak yang awalnya tidak punya akses baca jadi mulai jatuh cinta pada buku. Berani bermimpi karena bacaan hingga menumbuhkan rasa “hidup jadi ada artinya.”

 

Berkiprah di taman bacaan, ikut menyalakan harapan. Taman bacaan bukan sekadar rak buku, tapi ruang tumbuh. Saat kita terlibat, kita sadar sedang menanam benih masa depan. Kepuasan ini datang dari kesadaran bahwa kita ikut memperbaiki sesuatu, sekecil apa pun. Menjadi kebahagiaan yang tenang dan tahan lama.

 

Berbeda dengan kepuasan materi yang cepat habis, kepuasan batin bersifat sunyi tapi dalam. Ia tinggal lama, bahkan ketika lelah, karena berakar pada nilai. Lebih dari itu, di taman bacaan, kita belajar sabar, empati, konsistensi, dan rendah hati. Ada kebahagiaan ketika kita bertumbuh sambil membantu orang lain untuk tumbuh pula.

 

Banyak pegiat TBM merasa “ini tempatku.” Bukan karena fasilitas, tapi karena hati merasa selaras dengan yang dikerjakan. Puas secara batin, tentu jadi sebab sehat secara fisik. Kepuasan yang muncul karena kita tidak sekadar melakukan sesuatu, tapi menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna.

Uang bisa membayar tenaga, tapi tidak bisa membeli rasa cukup, bangga secara diam-diam, dan damai karena memberi yang berdampak.

Oplus_131072

Di banyak tempat, mungkin memberi cara instan. Dunia mungkin menawarkan jalan pintas. Tapi di taman bacaan, kita diingatkan bahwa kemajuan sejati lahir dari kepuasan batin saat mampu berkontribusi sekecil apapun kepada orang lain. Sekalipun jalannya berliku, taman bacaan memberi pengalaman pahit-manis yang bermakna. Dan akhirnya, menjadi tuan atas kiprah sosial diri sendiri adalah kemerdekaan yang sesungguhnya. Maka jangan takut berproses, karena hasil yang dipetik dari pohon yang kita tanam sendiri akan terasa jauh lebih manis. Salam literasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *