Tak ada runtuh yang lebih sunyi. Selain perang di dalam kepala sendiri. Tanpa dentuman, bahkan tanpa asap.
Namun serpihannya menancap lebih dalam dari peluru. Merasuk hingga ke dada, hingga sesak.
Di sana, di luar sana. Suara-suara bertempur tanpa seragam, tanpa jeda. Ragu menuduh, takut berteriak, dan keyakinan kadang berdiri gemetar di sudut ruang.
Pikiran bisa jadi rumah, tempat kau pulang dengan napas yang utuh, dindingnya hangat oleh syukur, jendelanya terbuka pada cahaya harapan.
Namun ia pun bisa menjadi puing, atapnya runtuh oleh prasangka, lantainya retak oleh kenangan yang tak kau sembuhkan, dan kau sendiri berjalan di atasnya setiap hari. Tanpa alas kaki, tanpa sadar kau berdarah pelan-pelan.
Betapa sunyi perang itu. Tak ada yang melihat lukamu, sebab semua terjadi di balik dahi, di ruang yang tak terpetakan.
Maka jagalah pikiranmu, seperti kau menjaga rumah masa depanmu. Sapu perlahan debu ketakutan, tegakkan kembali tiang keyakinan, dan biarkan kasih pada diri sendiri menjadi arsitek yang setia. Sebab ketika kepala menjadi teduh, dunia tak lagi terasa runtuh.
Maka simpan tenaga untuk hal yang bisa kau genggam, lepaskan yang memang tak mau dikendalikan. Sebab tenang bukan berarti kalah, ia tanda kau memilih hidup, bukan lelah.
Dan kau akhirnya tahu; kedamaian bukan ditemukan di luar sana, melainkan dibangun diam-diam di dalam dirimu sendiri.
Kau, mungkin sedang berperang dengan diri sendiri.











