PHK itu datang tanpa aba-aba. Tidak ada peringatan. Tidak ada waktu bersiap. Hanya satu panggilan singkat ke ruangan HR, lalu selembar surat yang terasa lebih berat dari seluruh tahun kerjanya.
Pak Darto pulang lebih cepat hari itu. Di teras rumah, istrinya sedang menyiram tanaman. Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki suaminya. Biasanya, Pak Darto selalu menyapa lebih dulu. Hari ini tidak. Tas kerja diletakkan pelan di kursi. Terlalu pelan. Istrinya akhirnya tahu. Suaminya di PHK. Hatinya langsung turun.
“PHK Pak…?”
Pak Darto tidak langsung menjawab. Ia duduk, menunduk, lalu mengangguk kecil. Satu anggukan yang membuat dunia istrinya runtuh. Mereka tidak menangis. Belum. Mereka hanya diam. Diam yang panjang, menyesakkan, seperti udara tiba-tiba habis di ruang tamu kecil itu.
Pak Darto sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun. Setiap pagi berangkat sebelum matahari naik, pulang ketika anak-anak hampir tidur. Ia lelah, tapi bangga. Ia merasa telah melakukan tugasnya sebagai kepala keluarga. Ternyata, semua itu bisa hilang dalam satu sore.
Malam itu, nasi di meja makan terasa hambar. Anak-anak bertanya kenapa ayahnya tidak memakai seragam kerja besok. Isrinya menjawab sekenanya. Pak Darto menatap piringnya lama sekali. Ia merasa gagal.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut. Pak Darto mengirim lamaran ke mana-mana. Ada yang tidak membalas, ada yang menolak halus. Umurnya dianggap terlalu tua. Pengalamannya dianggap terlalu mahal.
Setiap kali membuka email, jantungnya berdebar. Setiap kali tidak ada balasan, dadanya makin kosong. Istrinya mulai menghitung uang. Bukan untuk belanja tapi untuk bertahan.
Satu malam, saat semua sudah tidur, istrinya duduk di lantai dapur, menatap buku tabungan. Tangannya gemetar.
“Pak…” panggilnya pelan.
Pak Darto datang.
“Kita cuma punya cukup buat dua bulan,” kata istrinya dengan suaranya yang pecah.
Pak Darto menutup wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Bu Sari melihat suaminya menangis. Tangis tanpa suara. Tangis seorang laki-laki yang merasa seluruh tanggung jawab hidup menimpa pundaknya.
“Maaf…” bisik Pak Darto.
“Aku pikir selama aku kerja, kita aman. Aku pikir pensiun itu masih jauh. Aku pikir kita punya waktu.”
istrinya memegang tangan suaminya erat. “Kita sama-sama salah, Pak,” katanya lirih.
“Kita terlalu percaya hari ini akan selalu ada besok.”
Tagihan mulai datang. Listrik hampir diputus. istrinya menjahit pesanan tetangga. Pak Darto membantu angkut barang di pasar. Tangan yang dulu memegang laptop kini mengangkat karung beras. Tidak ada gengsi. Yang ada hanya bertahan.
Kadang Pak Darto berdiri di depan kamar anak-anak yang sedang tidur. Ia melihat wajah mereka satu per satu. Dalam hatinya hanya ada satu doa: Tuhan, jangan biarkan mereka merasakan takut seperti ini.

Beberapa bulan kemudian, Pak Darto akhirnya mendapat pekerjaan baru. Gajinya lebih kecil. Jabatannya lebih rendah. Tapi ia menerimanya dengan syukur. Hari pertama gajian, ia pulang membawa dua amplop. Satu untuk kebutuhan rumah. Satu lagi ia simpan sendiri.
“Ini buat apa?” tanya istrinya.
Pak Darto menatap istrinya lama.
“Buat hari ketika aku tak lagi punya tenaga. Buat hari ketika dunia tiba-tiba sunyi lagi.”
Sejak saat itu, mereka mulai menyisihkan sedikit demi sedikit. Untuk masa pensiun, untuk saat berhenti bekerja atau diberhentikan. Tidak besar. Kadang hanya puluhan ribu. Tapi dilakukan dengan rutin dan penuh kesadaran.
Karena mereka sudah belajar dengan cara yang paling menyakitkan: bahwa pekerjaan bisa hilang, usia bisa menua, tenaga bisa habis, tapi hidup tidak pernah berhenti menuntut biaya. Dan Pak Darto tahu sekarang: dana pensiun bukan soal kaya di hari tua.
Dana pensiun adalah tentang menjaga keluarga tetap berdiri, bahkan saat semuanya runtuh.











