Rezeki Terbaik di Taman Bacaan

Setelah 9 tahun tahun menjalani kiprah sosial di Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, akhirnya dapat disimpulkan setiap perbuatan baik yang bermanfaat akan sampai pada kondisi menenangkan. Hidup jadi lebih tenang di taman bacaan.

Kenapa begitu? Karena kiprah di taman bacaan yang konsisten benar-benar dapat menjatuhkan diri dari lingkungan toxic. Sepintas, kita merasa kehilangan teman atau lingkaran pergaulan. Ternyata, itu adalah rezeki penjagaan. Allah sedang mengeluarkan kita dari lingkungan yang hanya menghabiskan energi untuk hal sia-sia atau membicarakan orang lain. Di taman bacaan, Allah ingin waktu kita (sebagai rezeki) digunakan untuk tumbuh bersama orang-orang yang frekuensinya sama-sama menuju kebaikan, saling menebar manfaat.

​Saat berkiprah di taman bacaan pula, kita dimudahkan untuk melupakan kegagalan masa lalu. Ada orang yang bertahun-tahun terjebak dalam penyesalan, tapi kita di taman bacaan diberi kemampuan untuk move on dan fokus pada hari ini. Itulah yang dinamakan rezeki mental yang sehat. Allah sedang melapangkan jalan kita ke depan agar tidak terus-menerus menengok ke belakang. Saat kita bersosial di taman bacaan, berarti kita  sedang berdamai dengan masa lalu.  Rezeki baru akan jauh lebih mudah datang karena wadah hati kita sudah kosong dari beban.

​Dan lagi, saat berkiprah di taman bacaan ternyata kita merasa “dicukupkan” dengan sedikit keinginan. Tidak lagi memperbanyak harapan atau mimpi.
​Tiba-tiba kita merasa tidak butuh banyak hal untuk merasa bahagia. Kiya tidak lagi merasa harus mengikuti setiap tren atau memiliki apa yang orang lain miliki. Ini adalah rezeki kebebasan ya g langka. Saat kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan kuta sendiri, justru kita sebenarnya sudah menjadi orang terkaya. Kuta punya kendali penuh atas harta, bukan harta yang mengendalikan kita. Sebab “bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Sepintas berkiprah di taman bacaan memang sederhana. Bahkan tidak sedikit yang memandang sebelah mata. Tapi di situlah, ada banyak ketentraman yang diraih. Sebab kita tetap berpijak di jalan sunyi pengabdian, untuk selalu berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan.

​Sungguh indah sekali, jika kita sadar bahwa terkadang rezeki terbaik itu bukan tentang apa yang Allah tambahkan dalam hidup kita, tapi tentang apa yang Allah ambil dan kurangi (penyakit hati, beban pikiran, dan lingkungan buruk) dari hidup kita. Maka teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di manapun. Salam literasi!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *