Belajar dari Masjid Quba, The Show Must Go On

Benar kata orang tua dulu. Bahwa kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, seperti sungai yang terus mengalir. Ia tidak berhenti untuk menunggu kita siap, tidak bertanya apakah kita cukup kuat hari ini, atau apakah hati kita sudah cukup kuat.

 

Namanya hidup. Siapapun bisa terjatuh, terluka, atau hanya ingin berhenti sejenak dan berteriak, “Tunggu, Aku belum siap!”.  Tapi matahari tetap terbit esok hari, waktu tetap bergerak, dan tuntutan hidup, sebesar atau sekecil apa pun, tetap datang menghampiri. The show muat go on.

 

Teruslah ikhtiar, jangan berhenti. Terkadang, kita memang dipaksa untuk sanggup dan mau melakukan. Seperti orang pergi umroh atau haji, ada pula yang dipaksa untuk berangkat sekalipun uangnya pas. Sementara ada yang uangnya banyak tidak bisa ke tanah suci karena tidak mau memaksa diri. Pada akhirnya, kita bisa menemukan cara dan keberanian yang tadinya tidak kita duga. Begitulah arti perjuangan.

Itulah pelajaran yang diperoleh dari jamaah umroh kloter 128 Alhijaz saat city tour ke Masjid Quba dan Jabal Uhud.  Semuanya hari simbol perjuangan, keberanian bertindak. Seperti Masjid Quba sebagai masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Madinah tahun 1 Hijriyah (622 M). Selain jadi simbol  peradaban Islam, Rasulullah kut membangunnya, terjun langsung meletakkan batu pertamanya. Masjid Quba punya keutamaan besar, siapapun yang salat dua rakaat di masjid itu setara dengan pahala umrah.

 

Dari Masjid Quba dan Jabal Uhud, kita bisa belajar. Terkadang kita tumbuh justru ketika kita merasa tidak sanggup tapi mau melakukannya. Bisa jadi, kita mungkin tidak sanggup sekarang, tapi kita sedang dalam proses untuk menjadi sanggup. Langkah itu sendiri, napas yang terus kita tarik, adalah bukti bahwa kita sedang bertahan dan berjuang. Teruslah berjuang yang baik, semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *