Kita bekerja setiap hari, dari pagi hingga malam. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, menKita bekerja setiap hari, dari pagi hingga malam. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, menafkahi keluarga, dan menyenangkan orang-orang tercinta di rumah. Bahkan untuk menjaga gaya hidup sehari-hari. Biar ikut tren, biar terlihat keren. Tapi sayangnya, kita tidak tahu bagaimana setelah tidak bekerja lagi? Gimana bila masa pensiun tiba?
Bekerja memang mulia, tapi usia dan tenaga manusia terbatas. Karenanya, nilai kerja keras perlu diimbangi dengan kesadaran akan keterbatasan hidup. Tenaga tidak selalu ada. Saat muda, kita kuat, produktif dan bisa bekerja panjang. Tapi di saat tua, fisik kita menurun risiko sakit meningkat dan tidak semua pekerjaan bisa dilakukan. Maka tanpa persiapan masa pensiun, saat berhenti bekerja sama dengan berhenti berpenghasilan.
Di sisi lain, hidup pun tidak berhenti saat kita pensiun. Pensiun bukan akhir hidup, tapi fase baru dalam kehidupan. Kita tetap butuh makan, butuh biaya Kesehatan, dan butuh menjaga stnadar hidup di saat pensiun. Artinya, kebutuhan tetap jalan, meski penghasilan berhenti akibat pensiun. Sementara fakatnya, tidak semua orang punya jaminan di masa pensiun. anyak orang tidak punya dana pensiun, bekerja di sektor informal, dan mengandalkan upah harian. Lagi-lagi bila tanpa persiapan, maka risiko jatuh miskin di hari tua bisa menjadi nyata.
Pensiun itu soal martabat. Bekerja itu mulia, tapi terpaksa bekerja di usia renta karena tidak punya pilihan bisa menggerus martabat manusia. Maka mempersiapkan pensiun berarti menjaga harga diri, menjaga martabat. Anak tidak selalu bisa menanggung. Dulu, anak banyak, tinggal dekat. Sekarang, anak sudah punya keluarga kecil, punya kebutuhan sendiri, biaya hidupnya mahal, dan mobilitas tinggi. Maka di masa pensiun, bergantung pada anak adalah pilihan yang salah. Apalagi, tidak sedikit pekerja yang secara finansial hanya bergantung pada satu sumber gaji. Setiap bulan hidupnya dari gaji semata. Itu bukan karena kita kurang bekerja keras. Tapi kita harus berani mengalokasikan gaji untuk kebutuhan hari ini sambil tetap menyisihkan untuk hari tua.
Bergantung pada anak di masa pensiun adalah pilihan salah. Pensiun bukan kemewahan tapi perlindungan. Dana pensiun bukan soal hidup mewah di hari tua. Tapi soal bisa hidup layak, bisa berobat, dan bisa makan tanpa takut esok hari mau makan apa? Jadi, siapkanlah masa pensiun sejak dini seperti kita bekerja keras di masa muda.
Pahamilah, bekerja adalah kehormatan tapi menyiapkan pensiun adalah kebijaksanaan. #YukSiapkanPensiun
afkahi keluarga, dan menyenangkan orang-orang tercinta di rumah. Bahkan untuk menjaga gaya hidup sehari-hari. Biar ikut tren, biar terlihat keren. Tapi sayangnya, kita tidak tahu bagaimana setelah tidak bekerja lagi? Gimana bila masa pensiun tiba?
Bekerja memang mulia, tapi usia dan tenaga manusia terbatas. Karenanya, nilai kerja keras perlu diimbangi dengan kesadaran akan keterbatasan hidup. Tenaga tidak selalu ada. Saat muda, kita kuat, produktif dan bisa bekerja panjang. Tapi di saat tua, fisik kita menurun risiko sakit meningkat dan tidak semua pekerjaan bisa dilakukan. Maka tanpa persiapan masa pensiun, saat berhenti bekerja sama dengan berhenti berpenghasilan.
Di sisi lain, hidup pun tidak berhenti saat kita pensiun. Pensiun bukan akhir hidup, tapi fase baru dalam kehidupan. Kita tetap butuh makan, butuh biaya Kesehatan, dan butuh menjaga stnadar hidup di saat pensiun. Artinya, kebutuhan tetap jalan, meski penghasilan berhenti akibat pensiun. Sementara fakatnya, tidak semua orang punya jaminan di masa pensiun. anyak orang tidak punya dana pensiun, bekerja di sektor informal, dan mengandalkan upah harian. Lagi-lagi bila tanpa persiapan, maka risiko jatuh miskin di hari tua bisa menjadi nyata.
Pensiun itu soal martabat. Bekerja itu mulia, tapi terpaksa bekerja di usia renta karena tidak punya pilihan bisa menggerus martabat manusia. Maka mempersiapkan pensiun berarti menjaga harga diri, menjaga martabat. Anak tidak selalu bisa menanggung. Dulu, anak banyak, tinggal dekat. Sekarang, anak sudah punya keluarga kecil, punya kebutuhan sendiri, biaya hidupnya mahal, dan mobilitas tinggi. Maka di masa pensiun, bergantung pada anak adalah pilihan yang salah. Apalagi, tidak sedikit pekerja yang secara finansial hanya bergantung pada satu sumber gaji. Setiap bulan hidupnya dari gaji semata. Itu bukan karena kita kurang bekerja keras. Tapi kita harus berani mengalokasikan gaji untuk kebutuhan hari ini sambil tetap menyisihkan untuk hari tua.
Bergantung pada anak di masa pensiun adalah pilihan salah. Pensiun bukan kemewahan tapi perlindungan. Dana pensiun bukan soal hidup mewah di hari tua. Tapi soal bisa hidup layak, bisa berobat, dan bisa makan tanpa takut esok hari mau makan apa? Jadi, siapkanlah masa pensiun sejak dini seperti kita bekerja keras di masa muda.
Pahamilah, bekerja adalah kehormatan tapi menyiapkan pensiun adalah kebijaksanaan. #YukSiapkanPensiun











