Kisah Pensiunan: Ahh Iya Lupa, Saya Udah Pensiun

Pak Darto terbangun pukul enam pagi, seperti kebiasaannya selama lebih dari tiga puluh lima tahun. Tangannya refleks meraih jam weker di samping tempat tidur, lalu ia tersenyum kecil.
“Ah iya lupa, saya sudah pensiun.”

 

Usianya baru 56 tahun. Terlalu muda untuk disebut tua, tapi cukup senior untuk dipensiunkan. Dulu ia supervisor operasional di perusahaan logistik. Gajinya tidak kecil, hidupnya rapi, dan ia dikenal sebagai orang yang disiplin. Selama bekerja, Pak Arman jarang khawatir soal uang. Setiap bulan ada gaji, THR, bonus tahunan, dan JHT yang “katanya” nanti cukup.

 

Hari-hari awal pensiun terasa menyenangkan. Ia bisa mengantar istrinya ke pasar, menjemput cucu, dan sarapan tanpa terburu-buru. Tetangga sering berkata, “Enak ya, Pak Darto sudah pensiun. Tinggal menikmati hidup.”

Sambil tersenyum, Pak Darto mengangguk. Meski dalam hati ia belum benar-benar paham apa arti “menikmati hidup” tanpa penghasilan tetap.

 

Uang yang terasa aman… di awal.

Uang pensiun di Dana pensiun cair. Jumlahnya terlihat besar di rekening. Pak Darto merasa tenang. “Ini cukup sampai tua,” katanya pada istrinya.

Ia merenovasi dapur, membeli mobil bekas yang lebih nyaman, dan sesekali mentraktir keluarga besar. Tidak boros, menurut versinya. Tapi setiap bulan, saldo berkurang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

 

Ada yang tidak disadari Pak Darto. Tidak punya gaji bulanan lagi. Harga kebutuhan terus naik. Dan pengeluaran untuk kesehatan mulai muncul. Saat masih bekerja, biaya rumah sakit terasa kecil karena ada asuransi kantor. Sekarang, beberapa obat tidak sepenuhnya ditanggung BPJS. Kontrol rutin untuk tekanan darah dan gula darah mulai menjadi pos tetap.

 

Pak Darto mulai menghitung ulang. Ia membuka buku catatan keuangan, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya.

 

Kehilangan peran, bukan hanya penghasilan.

Setelah pensiun, masalah Pak Darto bukan cuma uang. Dulu, ponselnya sering berdering. Anak buah bertanya, atasan memberi arahan. Sekarang, ponsel itu lebih sering diam. Grup WhatsApp kantor masih ada, tapi obrolannya tentang target, lembur, dan promosi, bukan lagi dunianya setelah pensiun.

 

Pak Darto mulai merasa tidak dibutuhkan. Suatu siang, ia berkata pada istrinya, “Entah kenapa, saya capek… padahal tidak melakukan apa-apa.”

Istrinya memahami, tapi tidak selalu tahu harus menjawab apa. Anak-anak sibuk dengan pekerjaan dan keluarga mereka sendiri. Pak Darto mulai menghabiskan waktu di depan TV, berpindah channel tanpa benar-benar menonton.

Inilah risiko yang tidak pernah ia rencanakan: kehilangan identitas setelah berhenti bekerja.

Oplus_131072

Realita yang datang pelan-pelan.

Tahun ketiga pensiun, Pak Darto terkena serangan jantung ringan. Ia selamat, tapi dokter menyarankan gaya hidup lebih tenang dan pengobatan jangka panjang. Biaya bertambah. Dana pensiun yang dulu terasa aman kini mulai terasa rapuh. Suatu malam, Pak Darto menghitung sisa tabungannya. Ia terdiam lama. “Kalau saya hidup sampai 75 atau 80 tahun… cukup tidak ya?”

Pertanyaan itu datang terlambat. Ia baru menyadari longevity risk, risiko hidup terlalu lama tanpa penghasilan. Ia juga mulai enggan meminta bantuan anak-anaknya. “Mereka punya hidup sendiri,” pikirnya. Namun, rasa khawatir tetap ada.

 

Penyesalan yang datang belakangan

Pak Darto teringat obrolan lama di kantor. HR pernah menjelaskan soal DPLK dan perencanaan pensiun tambahan. Waktu itu ia menunda. “Nanti saja. Anak masih sekolah. Pensiun masih lama” katanya dalam hati waktu itu.

 

Ternyata, “nanti” datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. “Kalau dulu saya sisihkan sedikit saja tiap bulan… mungkin ceritanya beda,” gumamnya.

Ia tidak bangkrut. Tidak miskin. Tapi ia hidup dengan batasan, bukan kebebasan. Setiap keputusan selalu dihitung dengan rasa cemas.

 

Pelajaran dari Pak Darto.

Pak Darto bukan contoh kegagalan. Ia contoh kurangnya kesiapan. Pensiun mengajarkannya bahwa penghasilan bisa berhenti, tapi hidup terus berjalan. Sehat hari ini bukan jaminan sehat besok. Dana besar tanpa perencanaan bisa habis pelan-pelan di hari tua. Pensiun adalah fase hidup baru, bukan akhir cerita.

 

Kini, Pak Darto aktif berbagi cerita dengan junior-juniornya. “Saya tidak mau kalian mengulang kesalahan saya,” katanya. Mulailah memiliki dana pensiun atas inisiatif sendiri. “Bila tidak, akan persis seperti saya” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *