Selain untuk menghapus dosa, menghilangkan kefakiran, dan memperkuat iman-takwa, umroh juga punya motif yang berbeda-beda dari setiap orang. Tapi intinya, umroh pasti bagus dan baik. Sebab satu-satunya ibadah yang bisa menghapus rindu dan dosa sekaligus adalah umroh.
Tapi mungkin banyak yang lupa. Umroh juga bisa jadi sarana untuk “belajar tenang dalam menghadapi takdir, ikhlas menerima proses, dan tetap menanam harapan meski jalan terasa berat”. Umroh untuk kematangan batin dan ketangguhan hidup. Itulah yang saya rasakan saat umroh awal Januari 2026 dan umroh Rajab bersama istri dari 3-10 Januari 2026.
Belajar tenang dalam menghadapi takdir. Artinya, melatih diri untuk tidak reaktif berlebihan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali kita. Bukan pasrah tanpa usaha, tetapi menerima kenyataan dengan kepala dingin, sehingga keputusan yang diambil tetap jernih.
Ikhlas menerima proses. Sebab hidup jarang memberikan hasil instan. Semuanya butuh proses, sadar pentingnya penerimaan terhadap tahapan, penundaan, kegagalan, dan ketidaknyamanan sebagai bagian sah dari perjalanan. Ikhlas berarti tidak terus-menerus melawan realitas sambil menggerogoti diri sendiri.

Tetap menanam harapan meski jalan terasa berat. Kita tetap menjaga optimisme yang realistis. Selalu berpikir positif dan tetap berbuat baik di mana pun. Harapan bukanlah ilusi, tetapi energi batin yang membuat seseorang tetap melangkah, belajar, dan bertahan meski kondisi belum berpihak padanya.
Yang mungkin lupa dari umroh, perlunya keseimbangan antara penerimaan dan ikhtiar. Tenang terhadap apa yang tidak bisa diubah, sabar terhadap proses yang harus dilalui, dan setia pada harapan agar hidup tidak berhenti di kelelahan. Alhamdulillah, catatan umroh selalu bisa jadi pengingat.











