Mau Puasa Nih, Masih Doyan Bergibah?

Mungkin ada benarnya, di era media sosial atau grup WA yang sering bergibah. Tidak semua tuduhan layak dijawab dan tidak semua orang layak mendapatkan penjelasan. Sebab dalam hidup, akan selalu ada orang yang hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka percayai sekalipun bukan kebenaran yang sebenarnya. Apalagi orang-orang yang percaya atas kebenciannya, sama sekali tidak perlu digubris. Udah mau puasa nih, apa masih doyan bergibah?

 

Maka jelang bulan puasa, ada baiknya melatih kedewasaan emosional dan berani membatasi diri. Sebab tidak semua tuduhan layak dijawab, dan tidak semua orang layak mendapatkan penjelasan. Ini bukan tentang sombong atau menghindar, tapi tentang memahami nilai energi, waktu, dan harga diri kita sendiri. agar tetap berpijak pada hal-hal yang produktif dan bermanfaat, yang lainnya diabaikan.

 

Tidak semua tuduhan perlu dijawab. Sebab ada tuduhan yang lahir dari ketidaktahuan dan ada tuduhan yang lahir dari prasangka atau niat buruk. Terkadang, ada orang-orang yang bersifat sudah punya kesimpulan sebelum mendengar fakta. Sering mencari pembenaran, bukan kebenaran. Ingin menang argumen, bukan memahami. Bergaul dengan orang seperti ini hanya membuang energi. Karena sekuat apa pun penjelasan, mereka tetap memilih percaya versi mereka sendiri.

 

Lagi pula, tidak semua orang layak mendapat penjelasan. Sebab ada orang yang hanya ingin tahu untuk bahan gosip, hanya ingin mencari kesalahan orang lain lalu menyerang. Pada titik itu, menjaga batas (boundaries) menjadi penting. Tidak semua orang berhak masuk ke ruang batin kita. Hari ini ada fenomena orang-orang yang suka “mendengar apa yang ingin dipercaya”. Orang yang cenderung mencari informasi yang mendukung keyakinannya, mengabaikan fakta yang bertentangan, dan memelintir penjelasan agar sesuai dengan prasangkanya. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk tidak percaya, kebenaran sering kali tidak lagi relevan bagi mereka.

 

Maka lebih baik diam. Karena diam bukan berarti kalah. Tapi bentuk tertinggi dari kendali diri. Harga diri kita sama sekali tidak ditentukan oleh opini orang lain, bahkan yang tidak mengenal kita sepenuhnya. Biarkan prasangka mereka menjadi cermin bagi ketidak-dewasaan mereka sendiri. Karena terkadang, menjelaskan hanya memberi ruang bagi mereka untuk memutar-balikkan fakta dan membuat lebih banyak cerita. Makin banyak cerita main digemari mereka, hingga berlama-lama.

Ketahuilah, kita tidak cukup untuk memuaskan persepsi orang, apalagi yang pikirannya buruk. Kita hidup untuk berjalan tenang tanpa perlu validasi atau pembenaran. Karena tidak semua perang harus dimenangkan. Tidak semua orang perlu diyakinkan dan harga diri lebih penting daripada pembenaran. Pada akhirnya, hidup bukan tentang membuat semua orang mengerti kita. Tapi cukup Tuhan yang tahu, dan waktu yang membuktikan.

 

The show must go on. Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di manapun. Tidak semua tuduhan layak dijawab, tidak semua orang bisa dikasih penjelasan. Lebih baik membaca buku di taman bacaan. Kata Imam Syafi’i, jauhilah perdebatan walau kamu benar. Itu sudah cukup!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *