Ini tentang daya rusak kata-kata, sebagai renungan di bulan puasa. Bahwa “satu kata yang tak lolos sensor hati adalah racun yang mampu menghanguskan hutan persaudaraan”. Maka, lebih baik kunci rapat lisan kita jika ia tak mampu membawa madu kebenaran ke telinga sesama.
Hari ini, banyak orang terlalu gampang bicara. Bahkan membahas apapun yang tidak perlu dan sia-sia. Bukan memberi solusi malah menambah masalah. Soal pamer paspor WNA alumni LPDP hingga kasus ijazah yang tak kelar-kelar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita lebih merusak daripada memperbaiki. Kata-kata yang keluar tanpa disaring oleh nurani, tanpa empati, tanpa pertimbangan benar-salah, bisa menghancurkan suasana harmoni puasa, merusak keheningan ibadah, bahkan merusak hubungan yang sudah lama dibangun.
Persaudaraan itu seperti hutan: tumbuhnya lama, perlu waktu, kesabaran, dan sangat butuh perawatan. Tapi membakarnya? Cukup satu percikan api. Dan sering kali, percikan itu adalah satu kalimat yang tajam, kata-kata yang menyinggung banyak orang. Maka hati-hatilah dalam berkata-kata. Jaga lisan kita, jaga kata-kata kita.
Karenanya di bulan puasa, lebih baik kunci rapat lisan kita jika ia tak mampu membawa madu kebenaran ke telinga sesama. Jangan berkata-kata bila hanya menyinggung orang lain. Karena tidak semua hal harus diucapkan. Jika ucapan kita: tidak benar, tidak baik, atau tidak perlu maka diam lebih mulia.

Ketahuilah, kebenaran tanpa kelembutan bisa berubah menjadi kekerasan. Dan kejujuran tanpa kebijaksanaan bisa melukai. Bulan puasa bukan hanya menahan diri dari lapar dan haus. Tapi juga melatih kita untuk menyaring kata-kata dengan hati, menimbang dampaknya sebelum diucapkan, dan menjadikan lisan sebagai pembawa kebaikan bukan peluka.
Sebab luka oleh tangan mungkin bisa sembuh. Tapi luka oleh kata-kata kadang menetap di dalam dada. Pilihannya adalah lebih baik diam atau membaca buku. Bila perlu berkiprah di taman bacaan sebagai ladang amal kebaikan dan menebar manfaat kepada sesama. Salam literasi!











