TBM Sambut Bulan Puasa: Sebelum Perbanyak Ibadah Perbaiki Hati Dulu

Bulan puasa segera tiba. Maka sebelum perbanyak ibadah, perbaiki hati dulu. Sebagai esensi spiritual puasa itu sendiri. Puasa, di bulan Ramadan, bukan hanya soal menahan lapar dan haus, atau sekadar memperbanyak ibadah secara kuantitas. Tapi intinya, ada pada pembinaan hati (qalbu). Karena dalam ajaran Islam, hati adalah pusat niat, keikhlasan, dan arah hidup seseorang.

 

Puasa itu latihan pengendalian diri, bukan sekadar ritual. Banyak orang bisa menahan makan dan minum, tetapi belum tentu mampu menahan amarah, iri, dengki, atau prasangka buruk. Padahal tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan, yang berawal dari hati yang bersih. Jika hati masih dipenuhi riya (ingin dipuji), sombong, atau kebencian, maka ibadah yang banyak bisa kehilangan ruhnya. Secara lahiriah terlihat rajin, tapi secara batin belum tentu mendekat kepada Tuhan.

 

Perbaikan hati adalah fondasi ibadah. Ibadah tanpa hati yang lurus bisa berubah menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, hati yang bersih akan membuat ibadah sederhana terasa bermakna. Misalnya solat menjadi lebih khusyuk, dedekah terasa ringan, dan membaca Al-Qur’an terasa menenangkan. Karena yang berubah bukan hanya tindakan, tetapi orientasi batinnya.

 

Puasa mengajarkan empati dan kejujuran. Saat berpuasa, tidak ada yang benar-benar mengawasi kecuali Allah. Inilah latihan kejujuran hati. Orang bisa saja berpura-pura puasa di depan orang lain, tetapi puasa yang sejati lahir dari integritas batin. Selain itu, rasa lapar mengajarkan empati kepada yang kekurangan. Empati ini muncul dari hati yang peka, bukan dari sekadar formalitas ibadah.

 

Kualitas lebih utama daripada kuantitas. Kadang kita terjebak pada target berapa kali khatam al Quran? Berapa rakaat tarawih? Berapa banyak sedekah? Padahal pertanyaan yang lebih penting, apakah hati saya lebih sabar? Apakah saya lebih mudah memaafkan? Apakah saya lebih rendah hati?

Oplus_131072

Puasa sejatinya adalah proses tazkiyatun nafs, membersihkan jiwa. Jika hati belum diperbaiki, memperbanyak ibadah hanya memperbanyak aktivitas, bukan transformasi. Memperbaiki hati bukan berarti menunda ibadah, tetapi memastikan bahwa ibadah kita punya arah dan makna.

 

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menundukkan ego. Bukan sekadar menambah amal, tetapi memperhalus hati. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi bagaimana kondisi hati saat melakukannya. Dan yang penting, tetaplah membaca di TBM Lentera Pustaka saat berpuasa. Selamat berpuasa, Semoga sehat dan berkah!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *