Setelah membaca buku, akhirnya sampai pada pikiran, “Betapa anehnya manusia…”
Ya, manusia yang bertengkar dengan orang hidup. Tapi memberi bunga kepada orang mati. Dia diam lalu berhenti berbicara dengan seorang teman, seorang kerabat, bahkan seseorang yang dicintainya hingga tidak sudi mencarinya lagi. Tapi ketika teman atau orang itu meninggal dunia, datang bertakziyah membawa kata-kata indah. Katanya, sebuah penghormatan dan perpisahan penuh cinta. Selamat jalan kawan, katanya.
Kian aneh manusia. Tidak ada waktu untuk mengunjungi saat masih hidup, apalagi untuk mendengarkan, untuk duduk dan berbincang tanpa terburu-buru, untuk hadir saat masih bisa. Tapi begitu di pemakaman, ia diam berjam-jam. Tersedu-sedu dan menangis pilu. Mengenang seorang kawan yang tidak akan kembali. Seperti berduka sepanjang hayat.
Esok pun, dia tidak menelepon untuk menanyakan kabarnya. Dia tidak memeluk saat ada kesempatan. Dia pun tidak mengucapkan apa yang dirasakannya saat bisa mengatakannya. Dan kemudian, ketika semua sudah terlambat, menangis di depan tubuh yang tidak bernyawa. seolah penyesalan bisa mengisi kekosongan. Begitulah manusia yang begitu lupa.
Mungkin di mata manusia, sepertinya kematian lebih berharga daripada kehidupan. Seolah kasih sayang hanya diungkapkan ketika sudah tidak ada lagi jawaban. Dan sesuatu yang esensial kian terlupakan. Lupa, kekayaan sejati tidak ada pada bunga-bunga pemakaman, melainkan pada gestur dan tindakan sehari-hari.
Kebaikan, kemuliaan manusia. Harusnya ada di waktu yang dibagikan. Di cinta yang sederhana. Di kehadiran hari ini. Di aktivitas yang memberi manfaat. Bukan pada air mata atau tangisan di pemakaman. Karena pada akhirnya, yang tersisa bukanlah karangan bunga.
Melainkan jejak yang kita tinggalkan saat hidup, di hati orang-orang yang kita cintai di pikiran orang-orang yang merasakan kebaikan itu.
Hingga akhirnya tiba di suatu waktu. Entah kapan? Bahwa hidup itu rapuhm bahkan cepat berlalu. Dan yang selalu berharga, adalah waktu untuk belajar mencintai dan menebar manfaat. Jangan sampai bergumam, ketika semuanya sudah terlambat.
Bacalah ini dan renungkanlah, jangan sampai aneh keterusan. Mumpung masih ada waktu sebelum pergi ke pemakaman. Salam literasi!











