Budaya Disiplin Ala Jepang, Pengalaman Pendiri TBM Lentera Pustaka

Belajar disiplin dari Jepang

Lagi kondisi PPKM darurat yang diperpanjang. Mungkin nonton Olimpiade tahun ini di Tokyo-Jepang bida jadi piihan. Negara ini bukan hanya maju. Tapi memang pantas dipilih untuk menggelar pesta olahraga terbesar di dunia. Sekalipun di tengah pandemi Covid-19.

Kenapa begitu? Karena Jepang memang punya budaya dan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Tradisinya kental tapi otaknya luar biasa. Mau secanggih apa pun, masyarakat-nya tetap rendah hati dan tidak lupa diri. Tapi di atas semua itu, orang Jepang itu dikenal sangat disiplin. Dalam segala hal. Tidak mencla mencle. Taat dan tertib dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Sementra di negara di luar Jepang, masih ada yang rakyatnya tidak punya sikap dan mencla mencle. Tidak tertib dan maunya berdebat untuk urusan yang tidak penting, tidak produktif.

Maka wajar. Di cabang Bulutangkis misalnya. Sekarang ini Jepang majunya luar biasa. Padahal dulu, tidak ada atlet-nya yang bagus di bulutangkis. Tapi karena disiplin dan kerja keras ditambah “pelatih impor”, akhirnya bulutangkis Jepang sekarang kian mengganas. Dan jadi ancaman buat negara-negara yang selama ini dianggap “jago” di olahraga gebuk bulu itu.

Orang Jepang disiplin, itu sulit dibantah. Mereka selalu tepat waktu. Jangan coba-coba meeting datang telat. Bisa ditinggal sama si orang Jepang. Karena mereka pasti on time. Ke sekolah, ke kantor atau janji sama orang, pasti on time. Maka di sana, ada aturan tidak tertulis. Untuk setiap orang memakai jam digital. Agar tidak terlambat dalam hal apa pun.

Contohnya di Shibuya Crossing. Kalau di Indonesia bolehlah disebut “simpang lima”. Tempat ini jadi bukti orang Jepang disiplin; taat dan tertib. Sekalipun dari segala arah dan menyeberang di simpang lima semuanya tertib dan teratur. Rapi dan tidak ada orang tabrakan di jalan. Walau ramai dan padatnya bukan main. Anak muda, pekerja kantor dan turis tumpah ruah di Shibuya Crossing karena ini memang salah satu tempat wisata terkenal di Tokyo. Shibuya sering disebut sebagai “tempat penyeberangan tersibuk di dunia”.

Kita di Indonesia memang tidak perlu meniru negara lain. Tapi kita dapat memetik pelajaran tentang pentingnya punya budaya atau tradisi baik yang selalu dilakukan, kapan pun dan di mana pun. Seperti tertib di jalan, antre atau tidak membuang sampah di jalan. Itu pun bagian dari persoalan literasi kan? Asal mau, tentu pasti bisa. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen #PegiatLiterasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.