Di Dalam Taman Bacaan, Bukan Sekadar Bangunan

Taman bacaan masyarakat (TBM) tidak selalu ditentukan oleh papan nama atau sekadar bangunan. Bukan pula terletak pada alamat yang tertera di google atau kartu identitas. TBM jadi hidup karena aktivitas dan dampak yang dirasakan masyarakat sekitar. TBM hidup karena hadirnya orang-orang baik. Datang dari jauh dan mau mengabdi di taman bacaan.

 

Orang-orang baik di taman bacaan. Mereka bisa korporasi yang punya kebijakan peduli terhadap gerakan literasi dan taman bacaan. Mereka bisa relawan atau komunitas yang mau membantu dan berdonasi di taman bacaan. Untuk sekadar peduli dan memotivasi anak-anak yang rajin membaca buku. Kehadiran orang-orang di TBM yang spiritnya untuk peduli sosial dan mengabdi. Apapun bentuknya, penuh komitmen dan konsistensi. Mereka yang saling menyapa, berbagi diam, dan menanggung lelah bersama. Atas nama kemanusiaan dan kepedulian sosial. Tanpa itu semua, TBM hanya bangunan yang sunyi, sekadar tempat buku tanpa makna.

 

Suasana akrab, itulah yang dibangun di TBM Lentera Pustaka. Seperti yang terjadi saat launching CSR Bank Sinarmas tahun 2026 yang ditandai dengan periksa kesehatan gigi gratis untuk 200 anak pembaca aktif, yang ditangani tim dokter dari GWS Medika kemarin (1/2/2026). Anak-anak yang antusias, warga yang menyambut baik, relawan TBM yang menyiapkan segalanya, hingga korporasi (Bank Sinarmas dan GWS Medika) yang ikhlas membantu dan mengabdi di taman bacaan.

 

Kepedulian dan keakraban yang tumbuh di taman bacaan sering kali tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kebersamaan dalam rasa peduli. Dari percakapan sederhana, dari obrolan ringan yang berakhir pada aksi nyata untuk bikin event peduli sosial. Berbagi kepada anak-anak, memotivasi warga, hingga menyediakan akses baca. Perlahan, semuanya jadi kenangan dan cerita tentang pengabdian sosial. Maka di sanalah, rasa bahagia dan tenang terbentuk. Bukan karena dunia di luar baik-baik saja, tetapi karena ada tempat untuk mengabdi secara sosial.

Oplus_131072
Oplus_131072

Pada akhirnya, taman bacaan masyarakat adalah tentang kemauan berbagi, tentang kepedulian, dan tentang relasi. Bukan properti atau diskusi semata. Tentang siapa yang mau berbuat baik dan menebar manfaat secara konkret, tentang kebersamaan untuk mengabdi sekalipun penuh keterbatasan. Taman bacaan tidak perlu hebat apaplagi sempurna. Asal tetap berkiprah dengan aktivitas dan program yang ditujukan kepada masyarakat, kepada pengguna layanannya.

 

Ketahuilah, TBM yang di dalamnya berisi orang-orang baik, saling bersinergi dan berbuat nyata pasti menjelma menjadi ruang publik yang bermanfaat dan manusiawi. Di tempat lain, bisa jadi kita rapuh dan kosong. Tapi di taman bacaan, kita tumbuh bersama untuk kepedulian sosial. Salam literasi!

Exit mobile version