Gaji Tinggi, Bukan Berarti Masa Pensiun Aman

Ini realitas yang terjadi di kalangan pekerja profesional. Sebagian besar profesional merasa tenang karena memiliki aset: rumah, kendaraan, tabungan, main saham, bahkan investasi. Namun, satu hal yang sering luput disadari adalah bahwa aset tidak otomatis dapat membuat kita hidup aman di hari tua. Aset belum tentu bisa menjaga standar dan gaya hidup kita di masa pensiun. Apalagi saat butuh ddana darurat atau risiko kesehatan di hari tua.

 

Kita tahu, semakin besar biaya hidup maka semakin besar kebutuhan di hari tua. Semakin canggih pengobatan, semakin tinggi biayanya. Sementara di hari tua, kita tidak lagi punya penghasilan tidak punya gaji lagi. Tanpa dana pensiun, bisa jadi semua aset yang dimiliki selama bekerja  akan habis begitu saja. Ada potensi kehilangan aset dalam kurun waktu tertentu. Tanpa dana pensiun, aset pribadi akan menjadi “sumber dana darurat” yang pada akhirnya habis lebih cepat daripada yang kita kira. Membangun aset memang penting. Tapi menjaga agar aset tidak habis di masa pensiun juga jauh lebih penting.

 

Gaji tinggi, bukan berarti masa pensiun aman. Karena itu, dana pensiun jadi penting. Sayangnya banyak profesional tidak punya dana pensiun. Di kalangan profesional berpenghasilan tinggi, masalahnya bukan karena tidak punya uang. Tapi karena cara berpikir dan ilusi keamanan tentang dana pensiun yang kurang pas. Profesional sering berpikir “Pensiun masih 20–30 tahun lagi.” Akibatnya menunda mulai menyiapkan dana pensiun. Uang dialihkan ke kebutuhan jangka pendek (gaya hidup, properti, liburan). Merasa pensiun masih lama. Padahal, waktu adalah aset terpenting untuk punya dana pensiun yang memadai.

 

Profesional seperti punya ilusi bahwa pendapatan tinggi berarti aman. Merasa gaji besar dimaknai selalu bisa menabung nanti sebab karier akan terus naik. Tapi faktanya, penghasilan bisa turun atau berhenti mendadak, usia produktif terbatas. Maka jelas pendapatan tinggi bukan berarti jaminan hari tua aman. Apalagi anggapan gaji naik, gaya hidup pasti ikut naik). Tradisinya, setiap kenaikan penghasilan diikuti cicilan lebih besar, standar hidup lebih mahal, dan komitmen finansial jangka panjang. Akibatnya uang “habis” tapi tidak tersisa untuk pensiun.

 

Entah kenapa, profesional sering terlalu percaya pada aset non-pensiun. Mengandalkan properti, bisnis, tabungan biasa, dan investasi spekulatif. Masalahnya, assert tidak likuid saat dibutuhkan, nilainya fluktuatif, dan tidak dirancang untuk penghasilan bulanan di hari tua. Salah Persepsi tentang dana pensiun. Dana pensiun sering dianggap “ribet”, “uang dikunci”, atau “imbal hasil kecil”. Padahal dana pensiun justru dirancang untuk disiplin dan perlindungan jangka panjang, Membantu menghindari uang habis terlalu cepat saat pensiun.

 

Banyak profesional overconfidence, terlalu percaya diri. Merasa paham keuangan, jadi utusan pensiun bisa atur sendiri. Akibatnya menunda keputusan, tidak membangun sistem otomatis, dan pensiun kalah prioritas dari investasi lain. Dana pensiun sebatas niat, tidak ada sistem yang kokoh. Tanpa autodebet, tidak ada skema rutin, dan tidak punya target manfaat bulanan. Dana pensiun hanya jadi “niat baik yang tidak pernah jalan”.

 

Akhirnya, kita terjebak pada budaya kerja yang mengabaikan pensiun. Di banyak perusahaan pensiun jarang dibicarakan, HR hanya fokus ke gaji dan benefit jangka pendek, dan edukasi dana pensiun minim. Akibatnya, profesional tidak merasa “dipaksa secara positif” untuk punya dana pensiun. Sebagian besar profesional gagal menyiapkan dana pensiun bukan karena kurang uang, tapi karena tidak membangun sistem, disiplin, dan kesadaran waktu. Dan gaji besar tanpa rencana pensiun hanyalah menunda risiko masalah keuangan di hari tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *