Hanya 24% Ruang Baca TBM yang Memadai (Survei Tata Kelola Taman Bacaan)

Hanya 24% ruang baca TBM yang memadai

Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022 yang dilakukan TBM Lentera Pustaka (Juni 2022) menyebutkan 57% fasilitas ruang baca yang ada di taman bacaan tergolong tidak memadai, 19% menganggap mungkin memadai. Dan hanya 24% taman bacaan yang ruang bacanya memadai. Itu berarti, taman bacaan dan gerakan literasi di Indonesia dihadapkan pada tantangan yang besar.

 

Fasilitas ruang baca biasanya terdiri dari rak-rak buku, alas atau karpet baca, bangunan taman bacaan hingga fasilitas lain taman bacaan. Ruang baca merupakan area penting di taman bacaan yang mampu menciptakan kenyamanan para pembaca. Bila ruang bacanya menarik, maka animo pembaca untuk datang pun tinggi.

 

Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022 ini diikuti 116 pegiat literasi dari 83 kabupaten/kota di 25 provinsi di Indonesia, seperti: DKI Jakarta, Jatim, Jabar, NTT, NTB, Jambi, Jateng, Sumut, Maluku, Papua Barat, Sulsel, Sumbar, Kalbar, Sulbar, Sultra, Aceh, Banten, Lampung, Sumsel, Riau, Sulteng, Maluku Utara, Bengkulu, Kalteng, dan Kalut. Survei ini menyiratkan bahwa fasilitas ruang baca masih harus ditingkatkan. Agar taman bacaan mampu menjadi tempat membaca yang asyik dan menyenangkan..

 

“Selain memetakan realitas di taman bacaan, survei tata kelola ini pun menjadi sinyal pentingnya partisipasi publik dan pemerintah dalam memperbaiki fasilitas ruang baca. Agar taman bacaan mampu jadi tempat yang asyik, di samping tempat membaca buku. Bila membaca penting, maka ruang bacanya harus memadai. Apalagi di era digital, tradisi membaca kian tergerus oleh gawai” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Bogor sekaligus pelaksana Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022.

 

Patut diketahui, taman bacaan adalah ruang publik untuk membangun kegemaran membaca masyarakat. Taman bacaan punya peran besar dalam meningkatkan kualitas informasi dan sumber daya manusia. Agar tidak terjebak hoaks dan pengaruh media sosial. Karena itu, fasilitas ruang baca jadi “pekerjaan rumah” yang harus dioptimalkan. Semua pihak semestinya peduli terhadap peningkatan Sarana dan prasarana taman bacaan.

 

Upaya untuk mendekatkan anak-anak dengan buku bacaan, tentu sangat dipengaruhi oleh fasilitas ruang baca, sarana, dan prasarana di taman bacaan. Tanpa ruang baca yang layak, bisa jadi taman bacaan kian sepi dan makin dijauhi pembacanya. Maka cara yang dapat dilakukan adalah menjadikan ruang baca di taman bacaan menjadi lebih menarik dan menggairahkan.

 

Maka ke depan, taman bacaan tidak cukup hanya beroperasi. Tapi fasilitas ruang baca patut ditingkatkan. Sebab rasa nyaman di taman bacaan, akan jadi modal penting para pembaca berdatangan. Apa artinya taman bacaan tanpa ruang baca yang nyaman. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #SurveiTataKelolaTBM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

/* */