Hanya Satu yang Kurang dari Pegiat Literasi, Apa Itu?

Apa yang kurang dari pegiat literasi?

Banyak orang sudah ikhtiar. Banyak pegiat literasi sudah berjuang di taman bacaan. Tapi nyatanya, hasilnya belum memadai. Harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Ujungnya jadi frustrasi. Akibat hasil tidak memuaskan, maka proses disalahkan. Atau mungkin, orang lain yang disalahkan. Lalu menyerah dan mengaku kalah.

 

Di banyak kasus, di banyak kejadian. Tidak ada proses yang salah. Tidak ada pula hasil yang mengkhianati proses. Semua sesuai dengan hukum-Nya, segalanya sudah pas dan pantas. Untuk siapa pun, untuk urusan apa pun. Siapa pun orangnya, siapa pun pegiat literasi yang aktif di taman bacaan. Hanya punya satu kekurangan. Ya, kurang satu doang. Apa itu?

 

Manusia itu hanya kurang satu doang. Lalu, terlalu cepat merasa gagal. Harapan tidak sesuai kenyataan, terlalu cepat merasa tidak berhasi;. Ada masalah terlalu cepat fristrasi. Lalu gampang berkeluh-kesah. Dan mencari “kambing hitam” atau buru-buru menyalahkan orang lain. Ngomong sana ngomong sini akhirnya jadi gibah. Tapi mengaku sudah baik dan paham agama. Begitulah realitas manusia di zaman begini.

 

Lebih aneh lagi, akibat kurang satu doang. Banyak orang dalam hati membenci orang lain. Menyalahkan keadaan. Bahkan dalam hatinya berceloteh, “Dimana Allah SWT saat saya sedang sulit? Di mana Allah saat saya sedang sedih?”. Hingga menyebut, “Rencana Allah pada saya telah gagal?”. Akibat urusan dunia, keimanannya terganggu. Padahal, manusia hanya kurang satu doang.

 

Manusia pada setiap ikhtiar-nya, hanya kurang satu doang.

Kok bisa, kuliah tapi tidak kelar-kelar. Kok bisa, bekerja puluhan tahun tapi tetap ekonominya bermasalah. Kok bisa, salahnya di diri sendiri tapi menyalahkan orang lain. Kok bisa, sudah berjuang keras tapi belum berhasil. Dan kok bisa, pegiat literasi punya rencana dan impian baik di taman bacaan tapi gagal diwujudkan hingga kini? Itu berarti ada yang salah. Tapi bilangnya belum beruntung. Ahhh sudahlah, manusia kadang banyak alasan. Jarang mau mengakui kekurangan pada dirinya.

 

Begitu pula pegiat literasi di taman bacaan. Terlalu gampang menyerah saat taman bacaannya tidak sesuai harapan. Anak-anak yang membaca sedikit. Koleksi buku pun terbatas. Lalu, menyalahkan lingkungannya dan merasa jadi korban ketidak-pedulian orang lain. Frustrasi di taman bacaan, hingga niat baiknya terganggu. Ini taman bacaan mau diteruskan atau tidak ya? Begitu dalam hatinya berpikir. Mudah putus asa. Lupa, bahwa aktivitas literasi dan kegiatan taman bacaan di mana pun tidak mudah. Butuh mentalitas yang kokoh dan keberanian yag luar biasa.

 

Siapa pun hanya kurang satu doang, Pegiat literasi di taman bacaan pun kurang satu doang. Yaitu, kesungguhan atau kesepenuh-hatian. Banyak orang tidak sungguh-sungguh dalam  melakukannya. Banyak hal dalam hidup dilakukan tidak dengan sepenuh hati. Apalagi kegiatan sosial di taman bacaan, sejujurnya sering dilakukan dengan sambil lalu. Tidak sungguh-sungguh, hanya setengah hati. Maka harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

 

Kurang sungguh-sungguh, tidak sepenuh hati dalam melakukannya. Taman bacaan dikelola hanya setengah hati. Pekerjaan dianggap hanya rutinitas tanpa kesungguhan. Jadi mudah kecewa, mudah berkeluh-kesah. Lupa hukum sebab akibat, bahwa tidak ada hasil yang memuaskan bila tidak sungguh-sungguh. Bila hamba-Nya tidak sungguh-sungguh, maka Allah SWT pun tidak akan sungguh-sungguh. Sederhana sekali hukumnya.

 

Maka kata kuncinya, hanya kesungguhan. Harus sepenuh hati, apa pun dan  di mana pun. Lakukan apa puu, selagi baik dengan sungguh-sungguh. Bukankah “Man Jadda Wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Maka pegiat literasi di mana pun harus sungguh-sungguh. Siapa pun dalam urusan apa pun harus sepenuh hati. Karena apa pun yang dijalani hari ini adalah pilihan kita sendiri. Bahkan bisa jadi jalan hidup kita. Sungguh-sungguhlah melakukannya. Siapa pun yang sungguh-sungguh, pasti sibuk mengurusinya. Tidak sempat mencari kesalahan orang lain. Urus apa yang harus diurus, bukan yang lain.

 

Apa yang kurang dari kita? Yaitu kesungguhan. Setelah itu lengkapi dengan “Man shabara zhafira”, siapa yang sabar pasti beruntung dan “Man saara ala darbi washala”, siapa yang berjalan di jalannya pasti akan sampai di tujuan”. Ketahuilah, Allah SWT tidak pernah gagal atas rencananya. Karena semua makhluk sangat bergantung kepada Allah. Masalahnya, kita mau mendekat kepada-Nya atau tidak?

 

Jadi perbaiki niat, teruslah ikhtiar dan optimalkan doa. Maka semua amal dan perbuatan baik pasti dibalas dengan hal-hal yang baik. Seperti pegiat literasi di taman bacaan pun butuh kesungguhan, harus lebih sepenuh hati dalam ber-literasi. Pegiat literasi itu tidak kekurangan kekuatan. Tapi hanya kekurangan kesungguhan. Salam literasi #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.