Hidup Pensiunan Indonesia: 5% dari Uang Pensiun dan 84% dari Keluarga

Faktanya hari ini, pensiunan atau lansia di Indonesia sama sekali tidak mandiri secara finansial. Biaya hidupnya bergantung pada keluarga atau anak-anaknya. Laporan Badan Pusat Statistik (2024), sebanyak 83,74% pensiunan atau lansia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja. Sedangkan 10,97% bergantung pada kiriman dari anak atau pihak lain, 5,01% dari uang pensiunnya sendiri, dan hanya 0,28 yang bergantung pada investasi yang dimiliki. Ini artinya, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja. Sementara pensiunan yang hidup di hari tua dari uang pensiun tidak sampai 1 orang.

 

Menarik dicermati dari laporan BPS ini, ada pensiunan atau lansia yang menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota rumah tangga yang bekerja dan ada pula yang bergantung pada kiriman dari anak atau pihak lain. Bergantung secara finansial pada anggota keluarga yang bekerja, berarti kebutuhan hidup utama (makan, tempat tinggal, kesehatan) ditanggung anggota keluarga akibat si pensiunan tidak lagi punya penghasilan. Tinggal serumah dengan anak, dibiayai langsung tiap hari atau atau diberi uang rutin. Kondisi ini menunjukkan si pensiunan bergantung ekonomi secara total. Sedangkan pensiunan yang menunggu kiriman uang dari anak atau pihak lain, berarti si pensiunan menerima transfer uang dari anak/keluarga secara bulanan. Tetap tergantung secara finansial tapi tidak total.

 

Mayoritas pensiunan di Indonesia tidak memiliki dana pensiun mandiri yang cukup, sehingga hidup hari tuanya menjadi tanggungan anak atau keluarganya serumah. Minimnya persiapan masa tua di saat masih bekerja menjadi penyebab utama. Selain literasi keuangan yang rendah, banyak pekerja tidak memiliki program pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Tidak punya tabungan pensiun, sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk hari tua.

Data dari Asian Development Bank (Mei 2024)  menyebut 50% penduduk lanjut usia (60+ tahun) atau pensiunan mengandalkan transferan uang dari anaknya. Artinya, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia benar-benar mengandalkan transferan anak untuk memenuhi biaya hidupnya setiap bulan. Konsekuensinya, generasi sandwich makin sulit diputus. Karena anak yang bekerja harus menanggung biaya hidup orang tua sekaligus pasangan dan anak-anaknya.

 

Hanya 5% pensiunan hidupnya ditopang dari uang pensiun. Agak miris, karena sebagian besar pensiunan di Indonesia tidak siap secara finansial. Akibat tidak memiliki perencanaan keuangan yang jelas untuk masa pensiun. Karena itu, edukasi dan kesadaran akan pentingnya mempersiapkan masa pensiun jadi penting disuarakan. Agar kerja yes, pensiun oke!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *