Jadi Pemimpin Nggak Usah Banyak Omong Umbar Klarifikasi

Di organisasi bahkan di kantor, sekarang ini ada candu bernama: pengakuan. Biasanya dimiliki yang merasa jadi ketua, pemimpin atau atasan. Saking merasa pentingnya, dia punya kebutuhan aneh yang sering nyamar jadi “cuma pengen jelasin”, “cuma pengen lurusin”, “cuma pengen biar orang paham”. Padahal kalau ditarik ke akar, sering kali itu cuma: pengen diakui sebagai pimpinan.

 

Si pemimpin organsisasi lupa, begitu dia pengen diakui maka dia mulai kebanyakan ngomong. Mulai buka-buka cerita yang sebenernya nggak perlu. Mulai ngasih konteks omongan yang nggak diminta. Dan si pemimpin mulai nambahin detail yang nggak ada gunanya buat anggotanya. Dan tanpa sadar, dia lagi ngasih anggotanya bahan mentah. Ada juga satu jebakan si pemimpin: merasa paling ngerti. Dia “harus” ngomong karena dia ngerasa paling paham. Lalu mulai ceramah. Mulai meremehkan, mulai merendahkan orang lain. Dia lupa, dalam politik dalam konflik dalam kekuasaan, yang bikin orang tumbang itu bukan kebodohan. Tapi kecerobohan yang lahir dari kepercayaan diri berlebihan. Sok paling tahu, sok paling pinter. Lupa, mulut adalah tempat kepercayaan diri bunuh diri pelan-pelan.

 

Si pemimpin organsisasi itu lupa. Kata-katanya bukan cuma ngasih tahu orang lain siapa dia. Tapi juga mengunci dia posisi tertentu. Ngomong di depan orang banyak, nanti kantor akan lebih besar dari sekarang. Tapi besok yang dikerjain ma;ah kantornya dibikin kecil. Hari ini ngomong A, ternyata besok yang dilakukan malah B. ujungnya, nggak ada yang dikerjain buat organisasinya. Semuanya didelegasikan, nyuruh orang lain. Tapi bilangnya, kolaborasi dan bagian dari strategi organisasi. Intinya, dia terlalu suka nunjukin betapa dia merasa lebih tinggi dari orang lain. Setiap pidatonya bukan cuma nyampein ide tapi juga nyampein isi kepalanya yang paling jelek: sombong, meremehkan, dan nggak sabaran. Anggota dan rakyat yang tadinya kagum, jadi muak. Bukan karena idenya salah. Tapi karena mulutnya keburu ngebuka sendiri “siapa dia sebenarnya”. Anggotanya pun saling nomong di belakang, saling lirik-lirikan.

 

Di dunia nyata, banyak pemimpin nggak paham. Yang pertama kali bocor itu hampir selalu yang kalah posisi tawar. Makanya kalua diperhatikan: orang yang kebanyakan klarifikasi biasanya bukan lagi menguatkan posisi tapi dia lagi defensif. Lagi panik. Lagi merasa harus ngejelasin diri. Dan begitu dia harus ngejelasin diri, di situ sebenarnya posisi dia sudah bergeser. Bukan pemimpin tapi hanya strategi kamuflase.

 

Si pemimpin ngomong karena pengen kelihatan pintar. Ngomong karena nggak tahan sama sunyi dan karena takut disalahpahami. Dan justru karena banyak ngmong itu, si pemimpin jadi gampang kebaca. Dia lupa dalam hidup, dalam negosiasi bahkan dalam menulis: yang bikin kuat bukan seberapa banyak yang diomongin. Tapi seberapa banyak yang kita tahan buat nggak kita omongin. Karena sekali kata keluar, dia nggak bisa ditarik balik. Dan sering kali, harga satu kalimat itu lebih mahal dari yang kita kira. Ada satu hal yang lebih dalam: orang jarang jatuh karena musuhnya pinter. Dia jatuh karena dia sendiri terlalu pengen didengar. Kita lupa, pemimpin yang sok tahu sok pinter, itulah yang bikin orang lain jadi apatis.

 

Ada ilusi berbahaya: kalau diam, dikira kalah. Padahal sering kali yang sebenarnya kalah itu justru yang keburu buka mulut duluan. Perhatikan orang kalau lagi debat. Yang posisinya lemah biasanya: nambah volume suara, nambah panjang kalimat, nambah banyak pembelaan dan mengklarifikasi masalah. Tapi yang posisinya kuat biasanya: jawabannya pendek, diam atau langsung resign. Mengambil sikap tegas, untuk menghidari pemimpin yang sok tahu, arogan ddan subjektif.

 

Hari ini banyak pemimpin merasa paing ngerti, apapun. Padahal itu jebakan batman. Nggak ada yang dilakukan, organsisasinya pun nggak lebih baik, bahkan cenderung “kosong”. Ya begitu-begitu saja. Tapi ocehannya diperbanyak agar jadi alasan. Orang yang banyak ngomong itu kaku. Karena dia sudah mengikat dirinya sendiri dengan ucapannya sendiri. Beda dengan orang yang irit ngomong, dia lentur. Dia bisa belok. Bisa mundur. Bisa nyerang. Tanpa harus jelasin apa-apa. Dan ini yang jarang disadari: diam itu bukan kosong. Diam itu menyimpan kemungkinan. Kemungkinan buat berubah sikap. Kemungkinan buat ganti strategi. Kemungkinan buat ninggalin orang lain kejebak sama asumsi mereka sendiri. Jadi penting, kalau kita nggak harus ngomong, jangan ngomong.

 

Pernah nggak kita ketemu orang yang makin dia jelasin sesuatu, kok makin kelihatan nggak meyakinkan? Awalnya dia kelihatan pinter. Terus dia nambah penjelasan. Terus nambah klarifikasi lagi. Sampai di satu titik, dia bukan makin yakin. Dan di situ kita mulai mikir: “Ini orang kenapa sih kayak takut banget nggak dipercaya?” Nah, di situ masalahnya. Mulai insecure atas posisinya.

 

Kebanyakan pemimpin atau orang nggak sadar: setiap kali mereka ngomong, mereka bukan cuma nyampein ide. Mereka lagi buka peta isi kepala mereka sendiri. Dan makin panjang mereka ngomong, makin kelihatan bentuknya: takutnya di mana, pengennya apa, paniknya seperti apa, niat aslinya ke mana? Makanya ada tipe orang yang baru buka mulut dua kalimat, tapi suasana ruangan langsung berubah. Bukan karena dia pinter banget. Tapi karena dia gak ngasih cukup data buat orang lain buat “ngebaca” dia, mau ke mana omongannya?

 

Dan bila di organsisasi udah seperti itu, maka yang terjadi suasana sepi. Tidak dinamis, tidak demokratis. Semuanya satu arah dan tinggal menunggu waktu saja untuk berakhir. Makanya ingat, semakin banyak kita nambah kata, semakin kelihatan kita lagi nutupin sesuatu. Lebih baik fokus kerja, benahi yang harus dibenahi di organsiasi. Nggak usah inscure, harus ngejelasin atau klarifikasi apapun. Di organsiasi dan negara manapun, sejarah pasti ada. Nggak usah menyalah-nyalahkan sejarah cuma mau dibilang hebat. Jangan bilang orang lain buruk bila cuma mau kita dibilang baik. Ada caranya yang elegan, tunjukkan dengan kerja dan bisa diukur pencapainnya.

 

Ingat, ada cerita klasik soal seorang jenderal Romawi, Coriolanus namanya. Di medan perang, dia legenda. Semua orang takut. Semua orang kagum. Tapi begitu masuk politik, dia hancur. Kenapa? Karena dia nggak bisa ngerem mulutnya dan cuma cari pengakuan. Kerjanya cuma menyalahkan sejarah tanpa bisa berbuat strategi perang lebih baik. Mau kayak jenderal Coriolanus?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *