Jangan Pernah Menunda untuk Membaca

Kita, sebagai manusia terbiasa menunda apapun. Mengabaikan perhatian, menangguhkan penghargaan, dan mengira waktu selalu bersedia menunggu kesiapan kita. Padahal waktu tidak pernah benar-benar menunggu, ia hanya bergerak, membawa mereka yang lelah berdiri di depan pintu yang tak kunjung terbuka. Begitulah seringnya manusia memperlakukan kesempatan, pertemuan, dan kehadiran yang tulus dalam hidupnya.

Dalam kehidupan, setiap ketukan adalah bentuk keberanian. Ia lahir dari harapan, dari keyakinan bahwa di balik dinding ada ruang yang bersedia menerima. Namun tidak semua pintu peka terhadap suara itu. Ada yang terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk di dalamnya, ada pula yang terlalu takut untuk membuka diri. Maka ketika ketukan berhenti, sering kali yang tersisa hanyalah sunyi, sunyi yang menyadarkan, tetapi sudah terlambat untuk mengubah keadaan.

Manusia kerap baru menyadari arti kehadiran setelah kehilangan. Kita memahami nilai sebuah cahaya justru ketika gelap datang tanpa aba-aba. Penyesalan pun menjadi guru yang mahal, mengajarkan bahwa tidak semua yang pergi diberi kesempatan untuk kembali.

Hidup adalah rangkaian pertemuan yang rapuh. Maka sebelum sunyi mengambil alih, belajarlah membuka diri, menghargai yang datang, dan menyambut setiap ketukan dengan kesadaran. Sebab tidak semua yang mengetuk akan bersedia menunggu selamanya.

Seperti membaca buku, sering kali ditunda. Terlalu sibuk dan tidak punya waktu katanya. Padahal selagi masih ada buku di depan mata, selagi masih ada akses untuk membaca semestinya tidak ada alasan untuk tidak membaca. Membaca untuk diri, membaca untuk sebuah harapan di depan. Karenanya, jangan pernah menunda untuk membaca di mana pun.

Membaca bersama di TBM Lentera Pustaka, sebuah praktik baik yang selalu didengungkan. Untuk anak-anak kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Salam literasi!

Exit mobile version