Jangan Sampai Literasi Besar di Omongan, Tetap Kerdil di Tindakan

Berbicara literasi di berbagai forum, memang mudah. Hampir tidak ada antara yang benar-benar mengerjakannya dan tidak. Hampir sama antara yang hidup di teori dengan praktik. Karena literasi memang milik semua orang. Sehingga siapapun “sama expert-nya” kalua sudah bicara soal literasi. Begitulah literasi bekerja.

 

Sikap sebagian orang yang memgaku pegiat literasi pun demikian. Pandai berbicara tentang literasi, taman bacaan, dan budaya gemar membaca. Entah dari mana background-nya, entah dari mana ilmunya? Literasi yang inklusif dianggap saat semua orang boleh biacar tentang literasi. Sebab literasi dianggap miliki semesta. Tapi pada saat yang sama, tidak menunjukkan hal yang sama dalam tindakan nyata. Menggebu-gebu saat bicara literasi tapi lemah dalam praktik. Entah, literasinya ada di mana?

 

Sekarang ini, banyak orang begit bersemangat ketika membahas literasi. Apalagi di ruang seminar dan diskusi ber-AC. Namun begitu di tengok, di mana kiprah literasinya mulai bingung. Di mana praktik baik yang sudah dilakukannya? Begitu bicara literasi di akar rumput, seakan menghilang ditelan badai. Seberapa besar dampat literasinya, siapa pengguna layanannya? Tiba-tiba, pembicaraan mulia hening, diam, dan sulit berkata-kata.

 

Literasi, terkadang hanya omon-omon. Sebaba antara teori dan praktik, bukannya mendekat malah menjauh. Harapannya jauh berbeda dengan kenyataannya. Narasinya berbeda dengan tindakan nyatanya. Kita sering lupa, literasi tidak dibesarkan dari narasi. Katanya literasi praktik baik ya harus dipraktikkan. Literasi dan kegemaran membaca tidak bisa diukur dari kata-kata atau narasi di raung seminar. Melainkan dari tindakan nyata di akar rumput. Praktik literasi bukan narasi dan diskusi yang diperbanyak. Literasi katanya membutuhkan kepedulian, karenanya dibutuhkan tindakan nyata dalam berliterasi bukan sekadar ucapan.

Hampir sama dengan literasi. Banyak orang jagi berbicara tentang Tuhan. Tapi belum terbukti dalam Ttindakan nyata. Sebagian orang pandai berbicara tentang agama, moral, dan kebaikan, tetapi tidak menunjukkan hal yang sama dalam tindakan nyata. Begitu bersemangat ketika membahas Tuhan atau nilai-nilai spiritual, namun ketika ada kesempatan untuk membantu sesama atau menunjukkan kepedulian, mereka justru menghilang, diam, atau tidak berbuat apa-apa.

 

Literasi memang mudah. Tapi membuktikannya dalam praktik baik dan tindakan nyata adalah yang terpenting. Jangan biarkan literasi hanya “cantik” saat diomongkan, tapi begitu-begitu saja di keseharian. Entah, mau sampai kapan literasi begitu? Salam literasi!

Exit mobile version