Kerja Puluhan Tahun tapi Pensiun Belum Siap?

Ada fase hidup di mana kita harus bekerja, berjuang untuk memenuhi standar hidup. Tapi ada juga fase di mana kita harus berhenti bekerja alias pensiun. Setiap fase dalam kehidupan, akan dan pasti dilalui setiap orang tanpa terkecuali. Hanya realitasnya seperti apa, yang tahu hanya diri kita sendiri.

 

Nah pada fase hidup tertentu, terkadang kita mulai sadar akan satu hal penting. Bahwa ternyata risiko tidak pernah menunggu kita siap. Boleh jadi, kita punya karier bagus. Penghasilan lebih stabil. Bahkan segala rencana tergolong rapi. Tapi itu semua tidak menjamin risiko akan hilang. Tetap ada risiko yang tidak terduga, bahkan tidak pasti. Apa dan kapan risiko itu dialami?

Yang jelas, hidup tetap punya cara sendiri untuk menguji kita. Sayangnya, kita sering luput untuk mempersiapkan risiko yang berpotensi akan terjadi. Sering lupa bila sauatu saat risiko datang. Bila tidak siap, maka siapa yang menanggung dampaknya?

Seperti risiko pensiun atau hari tua, apa yang sudah kita persiapkan bial suatu saat kita tidak lagi bekerja dan tidak punya gaji lagi? Anak-anak sudah besar dan punya aktivitas – kesibukan sendiri. Kita sudah tidak bekerja lagi, potensi sakit di hari tua pun mulai muncul. Masa pensiun, itulah salah satu risiko yang pasti dihadapi pekerja. Cepat atau lambat, pasti akan datang.

 

Masalahnya, apa yang sudah kita persiapakn untuk pensiun? Apa yang sudah kita lakukan hari ini untuk kehidupan di hari tua kita sendiri? Tetap bisa menjaga standar hidup sekalipun tanpa gaji, bekerja lagi, atau terpaksa bergantung secara ekonomi kepada anak-anak? Tentu, perencanaan hari tua  yang dilakukan hari ini akan menentukan seperti apa masa pensiunkita nanti?

 

Banyak orang bekerja hari ini, mampu memenuhi standar hidupnya. Bahkan punya gaya hidup yang tergolong keren. Bekerja keras untuk membangun aset, punya rumah, bahkan kendaraan. Tapi sayang, lupa mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Lupa, mau merencanakan hari tua seperti apa nantinya? Mungkin karena keasyikan kerja dan bergaya hidup.

 

Padahal adalah hukum alam berlaku. Satu kejadian saja bisa mengubah segalanya. Seperti yang terjadi pada bencana alam dan longsor di Sumatera. Rumah, sawah, dan harta dalam sekejap lenyap. Risiko yang selalu ada pada setiap orang, bahkan risiko daerah. Bukan hanya risiko dan kondisi finansial di hari tua. Tapi juga tentang rasa aman di saat pensiun, rasa aman terhadap orang-orang yang dicintai. Tentang standar hidup seperti apa di masa pensiun?

Dana pensiun bukan tentang tidak punya uang untuk ditabung. Dana pensiun bukan tentang masih lama waktunya. Bukan pula tentang tanggung jawab. Tapi tentang berpikir dan bersiap satu langkah lebih jauh, sebelum “masa tua” tiba. Sebelum masa pensiun datang, dan  memaksa kita untuk berhenti dari pekerjaan. Karena masa pensiun yang tenang, bukan datang dari harapan melainkan dari persiapan.

Dan ketika hidup kita sudah mencapai usia tua, masa pensiun yang paling berharga adalah tahu bahwa kita siap dan keluarga tetap punya masa depan. Terpenuhi segala kebutuhan hidupnya di hari tua meski kita tidak selalu bisa mengendalikan keadaan, akan seperti apa di hari tua? Karena itu, mulailah persiapkan masa pensiun kita sendiri. Mumpung masih bekerja, mumpung masih muda. Sebab hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia ternyata mengandalkan biaya hidup dari transferan anak-anaknya setiap bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *