Hari ini banyak orang cemas, bukan karena apa yang terjadi. Tapi cemas dan khawatir atas apa yang belum terjadi. Kebiasaan manusia sering cepat merasa cemas terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Merasa takut, khawatir, dan stres sebelum masalah itu benar-benar datang. Akibatnya, menderita dua kali. Pertama, karena bayangan di pikirannya sendiri. Kedua, saat masalah itu benar-benar terjadi (bila memang terjadi).
Padahal, banyak hal yang kita takutkan ternyata tidak pernah terjadi. Artinya, penderitaan itu hanya diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Cemas karena ingin mengontrol hal yang tidak bisa dikontrol. Cemas yang muncul karena ingin kepastian di tengah ketidakpastian. Sesuatu yang belum jelas, justru otak mengajak untuk mengisinya dengan prediksi. Sayangnya, prediksi kita sering condong ke skenario negative. Bias dan penuh kecemasan.
Maka jangan menyiksa diri dengan kekhawatiran masa depan. Hadapi masalah saat memang waktunya tiba, bukan sebelumnya. Fokuslah pada hari ini. Karena pikiran yang tidak terkontrol bisa membuat beban kecil terasa berkali-kali lebih berat.

Jangan terlalu cemas atas hal-hal yang berlum terjadi. Mulai kendalikan imajinasi yang teralu aktif. Sebab terlalu sulit “menagih” kepastian di dunia yang tidak pasti. Masalahnya bukan pada “rasa cemas”-nya. Tapi kita mempercayai semua pikiran cemas itu sebagai fakta.
Rileks saja dan tetaplah ikhtiar, seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka yang tetap “ngabuburead” membaca buku di bulan puasa. Jangan terlalu cemas. Salam literasi!









