Menjaga Hati di Taman Bacaan?

Banyak orang hari ini fokusnya di otak, di logika atau pikiran. Tapi sering kali meninggalkan hati, mengabaikan hati nurani. Percaya pada otak tapi sering tidak percaya pada hati. Akhirnya, hidup jadi tidak tenang, penuh ambisi, dan resah-gelisah. Berkeluh kesah setiap hari, pesimis, dan pikirannya jadi negatif. Semuanya akibat mengabaikan hati.

 

Maka jangan kotori hati. Hanya karena pikiran atau logika yang velum tentu sepenuhnya benar. Justru hati yang memegang kendali, bukan otak atau pikiran. Hati adalah pusat sikap dan perilaku. Hati (batin) adalah sumber niat, pikiran, ucapan, dan tindakan. Jika hati kotor oleh iri, dendam, kebencian, atau prasangka maka pikiran menjadi sempit, ucapan melukai, dan tindakan merusak diri sendiri dan orang lain. Karenanya, menjaga hati berarti menjaga seluruh perilaku.

 

Hati yang bersih pasti melahirkan ketenangan. Hati yang tidak dikotori, menjadi lebih tenang, tidak mudah tersulut emosi, dan tidak terus-menerus memikul beban batin. Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa negatif: mudah gelisah dan sulit bahagia meski terlihat sukses. kebersihan hati adalah sumber ketenteraman. Hati yang bisa menjauhkan diri dari prasangka dan dendam. Menyimpan luka lama, memelihara kebencian, dan enggan memaafkan bentuk konkret dari mengoori hati. Maka dengan membersihkan hati, kita membebaskan diri sendiri. bukan membenarkan kesalahan orang lain, tetapi melepaskan beban batin.

 

Ibarat daun, kalau dimakan ulat menjadi sutera. Kalau dimakan lembu menjadi daging. Apapun, bila jatuhnya di atas hati yang putih, menjadi penawar yang berguna. Tapi bila jatuhnya di atas hati yang hitam, menjadi racun yang berbisa. Musibah, kalau menimpa hati yang bersih, menjadi asbab muhasabah. Tapi bila menimpa hati yang kotor, menjadi asbab resah gelisah. Begitulah hati, benda yang sama sumber yang sama hasilnya menjadi berbeda-beda. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus pada diri sendiri. Bila diberi nasihat, apa kabar hati dan jiwa? Tunduk mengangguk taat atau benci meronta-ronta?

 

Bila ditimpa musibah, kita bagaimana? Mengamuk dan resah gelisah atau ridho terima takdir-Nya?  Sungguh semuanya berbalik pada titik yang sama; hati. Jangan kotori hati, apalagi bila Allah ada di hati kita, apa pun yang diterima, psti indah belaka.

 

Hati, membuka ruang bagi empati dan kebijaksanaan. Hati yang bersih, pasti mudah memahami orang lain. Lebih adil dalam menilai dan tidak terburu-buru menghakimi. Hingga melahirkan kebijaksanaan dalam bersikap dan bertutur. Hati pula yang menjaga hubungan sosial dan kehidupan spiritual kita. Sebab hati yang terjaga akan selalu memperbaiki hubungan dengan sesama, mendekatkan diri pada nilai-nilai ketuhanan, dan membuat hidup lebih bermakna. Dalam banyak ajaran moral dan agama, kebersihan hati menjadi syarat utama kebaikan amal.

Maka saya memilih untuk berkiprah di taman bacaan, di TBM Lentera Pustaka. Untuk selalu menjaga hati, sekadar berbuat baik melalui buku-buku bacaan dan menebar manfaat kepada anak-anak dan warga sekitar. Menjaga hati terbukti bisa dilatih di taman bacaan, agar tidak heboh pada aktivitas yang sia-sia. Menjaga hati, memang harus dipilih dan punya konsekuensi. Masalahnya, mau atau tidak melatih diri untuk mejaga hati?

Maka jangan kotori hati. Sebab tidak mengotori hati berarti memilih kedamaian daripada kebencian, kebijaksanaan daripada amarah, dan kejernihan daripada dendam. Salam literasi dari hati!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *