Alhamdulillah, saya hanya ingin menuliskan pengalaman saat umroh awal tahun 2026 ini. Ternyata, Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah bukan hanya tempat ibadah. Tapi madrasah akhlak yang hidup bagi umat Islam. Keduanya mengajarkan nilai-nilai akhlak yang sangat dalam, bukan lewat kata-kata tapi lewat pengalaman rohani dan sosial yang luar biasa.
Hampir tiap detik, tiap menit apalagi jam, kedua tempat suci itu menjadi fokus jutaan umat manusia. Silih berganti dan hilir-mudik setiap waktu. Di Masjidil Haram, saya belajar betul “tidak ada yang layak diagungkan selain Allah”. Semua orang berpakaian hampir sama, thawaf mengelilingi satu titik, dan tidak ada yang lebih tinggi dari Ka’bah. Semuanya harus rendah hati, tidak sombong atas status, jabatan, atau harta. Porosnya hanya pada Allah, bukan ego. Begitu pula di Masjid Nabawi, yang mengingatkan kecintaan kepada Rasulullah dan keteladanannya. Sebagai bukti, Islam disebarkan dengan akhlak, bukan kekuasaan. Iman pada akhirnya harus melahirkan akhlak. Sebagai teladan hidup, Rasulullah mengajarkan akhlak yang lembut, jujur dan amanah, dan kasih sayang kepada sesama.
Selama umroh, saya belajar lagi tentang pentingnya kesetaraan dan persaudaraan umat. Di dua masjid suci itu, raja dan rakyat berdiri sejajar. kaya dan miskin shalat satu saf dan berbagai bangsa bersatu dalam satu arah. Bahwa kemuliaan itu karena asal-usul, tapi ketakwaan. Akhlaknya saling menghormati siapa pun, menyingkirkan rasa merasa “lebih baik”, dan menguatkan ukhuwah.
Sepanjang jalan, mata saya hanya melihat perbuatan baik, sikap saling menghargai sekalipun tata cara ibadah masing-masing berbeda. Disiplin di setiap waktu sholat, tidak ada kata-kata kotor yang terucap. Patuh pada imam, tertib dalam waktu, dan menghormati aturan bersama. Semuanya yang terlihat hanya taat pada kebaikan. Sabar dan Ikhlas di segala keadaan, tidak mudah marah, dan mendahulukan empati. Bahkan orang Arab yang berdagang pun melayani jamaah umroh dengan akhlak yang luar biasa. Bisa berbahasa Indonesia, tidak marah ditawar murah, dan selalu memberi solusi ketika harga dan tawaran berbeda. Saya sendiri di toko coklat Grand Plaza Madinah sampai dipanggil “Bapak Mertua”, begitu elegan caranya merangkul pembeli. Ini basisnya di akhlak, bukan di citra.
Selama 9 hari umroh, begitu pulang ke Indonesia. Yang diributkan masih soal “ijazah palsu”, masih soal MBG, bahkan yang baru soal materi “Mens Rea” komika Pandji Pragiwaksono yang dilaporkan ke polisi. Negar ini terlalu berisik untuk urusan yang tidak produktif. Senang sekali bertikai, berdebat di TV, di media sosial, di grup WA. Sepertinya persatuan bangsa tidak lagi dianggap nilai, melainkan kecurigaan. Kritik sudah salah arti, bukan lagi jadi alat koreksi tapi sarana kebencian. Negara tidak lagi dipandang sebagai “rumah bersama” yang bisa diperbaiki, melainkan bangunan busuk yang pantas diruntuhkan. Seolah-olah, kehancuran bukan lagi ditakuti, tetapi diam-diam diharapkan. Benci kepada negara, benci kepada polisi, benci kepada aparat dan kebencian lainnya seperti sudah dinormalisasi. Negara dan simbol-simbolnya dengan gampangnya dijadikan bahan olok-olok massal, jadi bahan gibah nasional. Sebegitu parahnya ocehan dan cemoohan kita sehari-hari.
Entah kenapa, hari ini kebencian pada negara, pada orang per orang kok dipelihara. Hujatan dan cacian semakin mudah dijumpai di ruang publik, di media sosial, di panggung hiburan, hingga konten viral yang akhirnya membentuk emosi kolektif yang sinis. Seolah-olah keburukan dan kebobrokan bersumber dari negara atau dari orang lain. Jadi lucu, hidup dan cari makan di negara sendiri tapi negara dan aparatnya dijadikan “musuh permanen”.
Lebih aneh lagi, ejekan dan hinaan malah dianggap berani. Semakin kasar, semakin dianggap kritis. Tayangan keributan di TV dan kebencian diproduksi berulang-ulang tanpa rasa tanggung jawab. Tiba-tiba banyak orang merasa paling demokratis, paling patriotik, paling sadar, paling melawan, dan bahkan paling benar padahal mereka sedang ikut menggergaji fondasi rumahnya sendiri, sedang merusak negaranya sendiri dengan akhlaknya.
Saat ditanya, pasti semua kita mengaku beriman, punya agama dan ajarannya masing-masing. Tapi itu, tidak cukup untuk bisa melahirkan akhlak yang baik. Kita tidak lagi lembut dalam bersikap, tidak lagi punya kasih sayang sesama anak bangsa. Bahkan hampir-hampir tidak punya adab. Mencaci maki, menebar aib, ngomongin yang belum tentu benar, menyakiti sesama, dan berkata-kata kasar. Dan akhirnya, akhlaknya identik dengan lisan yang tidak terjaga, perbuatan yang zolim, dan niatnya patut dipertanyakan. Banyak orang menuntut hak-nya tapi mengabaikan hak orang lain.
Belakangan kehidupan sosial dan berbangsa kita kian terusik. Karena hari-hari kita semakin terbiasa membenci, terbiasa mencemooh, terbiasa menegasikan realitas, dan hanya mencari-cari masalah tanpa memberi solusi. Semuanya atas prasangka, bukan realitas. Kita sudah lupa, negara mau seburuk apapun sama sekali tidak bisa dilawan kebiasaan buruk. Jangan lawan ikhtiar baik dengan kebencian, apalagi prasangka buruk. Seperti ibadah umroh atau siapapun yang ke tanah suci, pasti niatnya ibadah. Tidak lebih dan tidak kurang, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sang pencipta. Karenanya, negara mau sejelek apapun harusnya tidak boleh “kehilangan” sikap cinta tanah air, harus tetap menjaga solidaritas internal sebagai bangsa. Karena selagi di dunia, negara ini dan tanah kelahiran kira tidak akan bisa digantikan oleh surga. Yang ada, malah terganti oleh keretakan, disharmoni, dan kebencian yang sama sekali tidak diperlukan rakyat jelata seperti saya. Gaduh dan berisik setiap hari, untuk apa dan mau apa? Kita harus mengakui dengan gentle, sebenarnya kita sedang ingin memperbaiki keadaan bangsa atau sedang merawat kebencian pada negara atau orang lain? Tolong dijawab dalam hati saja.
Sadarilah, selagi di dunia, kita ini tetap bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Silakan koreksi apapun dengan cara yang baik, jangan omongannya seperti mendendam atau membenci. Sampaikan dengan santun, jaga hak orang lain, dan sadar “di atas” masih ada Allah SWT yang menentukan segalanya. Apapun yang terjadi sudah diatur Allah, jangan kita yang “meng-invasi” hak Allah, untuk menentukan benar atau salah? Kita ini kalau baik pun bukan untuk mengalahkan malaikat, bila jahat pun tidak akan menyamai setan.
Belajar dari umroh, semuanya harus dijaga dan dirawat sesuai kehendak-Nya, bukan sesuai kehendak kita. Kita hanya diminta untuk memperbaiki niat dan ikhtiar yang baik, selebihnya serahkan kepada Allah SWT. Seimbangkan lahir batin, seimbangkan dunia akhirat. Dan seimbangkan jasmani rohani. Begitu pula hak dan kewajiban sebagai warga negara, sebagai rakyat. Seperti di saat umroh, di Masjidil Haram kita menjaga hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan di Masjid Nabawi kita menjaga hubungan dengan manusia (hablum minannas). Agar bisa dibawa pulang ke rumah, ke tempat kerja, ke masyarakat, dan ke bangsa-negara. Sehingga ibadah dan akhlak itu terasa hidup dan bertumbuh, bukan sekadar ritual semata.
Sudahilah kebencian itu, jangan berlama-lama dalam benci. Berhentilah menghujat, mencaci, juga menghina negara sendiri dan orang lain. Sebab bila tidak, maka saat -saat kehancuran akan menghampiri kita!
