Ibadah puasa, bisa jadi momen ibadah melatih ikhlas. Puasa adalah ibadah yang paling sunyi, yang paling sedikit dilihat manusia. Tapi paling jelas dirasakan oleh diri sendiri dan Allah. Puasa di bulan Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan pahala puasa. Di situlah letak latihan ikhlasnya. Maka puasa sama dengan melatih ikhlas.
Puasa adalah ibadah yang “tidak terlihat”. Sholat terlihat gerakannya. Zakat terlihat jumlahnya. Tapi puasa? Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sungguh berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Karena itu, puasa memurnikan niat. Kalau bukan karena Allah, untuk apa menahan lapar saat sendirian?
Ikhlas saat puasa, seperti ikhlas membaca buku. Pikiran jadi lebih tenang. Saat puasa, ritme hidup biasanya lebih pelan. Kita cenderung mengurangi distraksi seperti makan, nongkrong, atau aktivitas fisik berat. Fokus jadi lebih mudah terjaga, sehingga membaca terasa lebih khusyuk dan mendalam. Membaca di saat puasa, energi dialihkan ke otak. Ketika tidak sedang mencerna makanan, tubuh tidak terlalu sibuk dengan proses pencernaan. Banyak orang merasa pikirannya lebih jernih (meski ini bisa berbeda-beda tiap orang). Makanya, baca buku, refleksi, atau belajar sering terasa lebih “masuk”. Karenanya, membaca di saat puasa bikin suasana lebih reflektif. Sebagai momen kontemplasi dan memperbaiki diri. Aktivitas membaca — apalagi buku yang inspiratif atau spiritual — jadi selaras dengan suasana batin. Rasanya lebih meaningful, bukan sekadar hiburan. Puasa sambil membaca, punya sensasi “hening” yang nikmat. Karena perut kosong, tubuh cenderung lebih pelan. Detak hidup terasa lebih sunyi. Suasana hening ini cocok banget untuk tenggelam dalam bacaan.
Sungguh, siapapun yang berpuasa harus menahan diri dari yang halal. Saat puasa, kita tidak sedang menjauhi yang haram saja. Makan, minum, dan hubungan suami-istri itu halal tapi ditahan demi ketaatan. Ikhlas itu diuji ketika kita meninggalkan sesuatu yang kita boleh lakukan, semata-mata hanya karena perintah-Nya.
Puasa juga melatih sabar tanpa tepuk tangan. Lapar tidak dapat pujian. Haus tidak diberi penghargaan. Kita menahan emosi, menahan amarah, menahan keinginan tanpa ada yang tahu. Di situlah hati belajar: berbuat bukan untuk dilihat, tapi karena taat. Ikhlas mengerjakan ibadah tanpa perlu pujian.
Sebab puasa, kita ikhlas mengikis ego. Puasa yang meruntuhkan kesombongan fisik dan mental. Tubuh yang biasanya kuat menjadi lemah. Kita sadar bahwa kita bergantung hanya kepada-Nya. Bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah. Ikhlas lahir saat ego mengecil.

Bahkan puasa mampu mengajarkan kita untuk menerima rasa tidak nyaman dengan tenang. Bukan mengeluh, tapi menjalaninya. Ikhlas bukan berarti tidak merasa berat. Ikhlas adalah tetap taat meski terasa berat. Singkatnya, puasa adalah sekolah keikhlasan. Ia mendidik hati agar: beramal tanpa ingin dilihat, menahan diri tanpa ingin dipuji, dan taat tanpa banyak alasan.
Puasa sama dengan ikhlas. Kembali ke hati yang tenang tanpa gaduh. Ikhlas mengerjakan ibadah, ikhlas menerima apa yang terjadi tanpa rasa sakit. Ikhlas adalah kekuatan, yang membebaskan jiwa dari belenggu ego dan keinginan yang tidak terkendali. Dengan ikhlas, kita melepaskan harapan, menerima apa yang ada. Ikhlas adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki.
Ikhlas bukan berarti pasrah tapi berserah. Untuk menerima apa yang terjadi dengan hati yang lapang. Untuk menjalankan ibadah dalam sunyi. Sebab hanya kita dan Allah yang tahu. Selamat berpuasa, mohon maaf lahir batin.











