Menjaga Pikiran dengan Membaca

Oplus_131072

Menjaga pikiran tetap jernih bukan berarti hidup tanpa stres, tapi belajar berdamai dengan keadaan. Sebab tekanan akan selalu datang, dan tidak ada manusia tanpa masalah. Tapi kejernihan bisa tetap ada jika kita mau melatihnya, apalagi di bulan puasa.

 

Sekali lagi, berpikir jernih bukan berarti menghilangkan masalah. Tapi soal bagaimana kita meresponsnya? Hidup tanpa stres hampir mustahil. Selama kita punya harapan, tanggung jawab, dan relasi pasti akan selalu ada tekanan. Jangan kita yang orang biasa, tokoh-tokoh besar pun pasti mengalami masalah. Karenanya, kita hanya bisa mengendalikan sikap kita, bukan seluruh keadaan. Menjaga pikiran, merawat hati untuk tetap baik dan optimis.

 

Belajar berdamai dengan keadaan berarti mampu menerima realitas apa adanya. Bukan pasrah tanpa usaha, tetapi berhenti menyangkal kenyataan. Agar energi kita tidak habis untuk melawan hal yang memang di luar kendali kita. Untuk itu, kita harus mampu memisahkan mana peristiwa dan mana reaksi. Stres sering kali bukan dari peristiwanya, tapi dari pikiran kita tentang peristiwa itu. Saat kita bisa memberi jarak antara kejadian dan emosi, maka pikiran jadi lebih jernih.

 

Menjaga pikiran bukan berarti menghapus stres. Karena stres itu sinyal. Ia bisa menjadi bahan bakar untuk tumbuh, asal tidak dibiarkan menguasai. Tapi sebaliknya, stres bisa jadi “pembunuh” bila tidak dikelola dengan baik. Semuanya bergantung pikiran dan hati kita sendiri. Untuk selalu menumbuhkan sikap batin yang tenang.

 

Ketenangan bukanlah hasil dari dunia yang tenang, tetapi hati yang terlatih. Jadi, menjaga pikiran tetap jernih berarti tetap berpikir rasional di tengah tekanan. Tidak membiarkan emosi sesaat menghancurkan aktivitas dan mengaburkan keputusan.

Masalah harus dilihat sebagai proses, bukan akhir segalanya. Seperti air yang jernih bukan karena tidak pernah diguncang, tetapi karena ia dibiarkan untuk kembali tenang. Kata Michael A. Singer “You are not the voice in your mind; you are the one who hears it.” Kita bukanlah suara di dalam pikiran; kita adalah orang yang mendengarnya.

 

Sebagai refleksi diri, kejernihan sejati datang saat kita berhenti mempercayai setiap pikiran yang lewat, dan mulai mengamati apapun dengan tenang. Karena pada akhirnya, hidup tidak harus selalu mudah. Yang penting, pikiran kita tetap jernih untuk menjalaninya dengan baik.

 

Maka penting, untuk mengubah cara pandang terhadap tekanan. Orang yang pikirannya jernih tidak menghindari tekanan tapi menempatkannya sebagai guru. Tahu bahwa tekanan hadir untuk melatih fokus, kesabaran, dan daya tahan mental. Sebab, setiap stres yang kita alami justru sedang membentuk versi diri kita yang lebih kuat untuk hari esok. Dengan cara pandang yang jernih, beban berat pun bisa berubah menjadi bahan bakar untuk tetap tumbuh.

Dan lebih baik,menjaga pikiran dengan membaca di TBM Lentera Pustaka. Salam literasi!

Exit mobile version