Jangan jahat di kehidupan orang lain, kira-kira gitu pesan moral di bulan puasa. Untuk mengingatkan bahwa setiap tindakan kita bisa memberi dampak besar pada hidup seseorang. Karena itu, kita perlu menjaga sikap, kata-kata, dan perilaku agar tidak menjadi sumber luka bagi orang lain.
Ketahuilah, perilaku buruk yang kita anggap kecil bisa jadi meninggalkan “luka” yang besar di mata orang lain. Bersikap sinis, berprasangka buruk, komentar kasar sering dianggap hal sepele. Padahal bagi orang yang menerimanya, bisa jadi itu pengalaman yang membekas lama. Setiap orang punya perjuangan hidup yang tidak selalu terlihat. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kesulitan ekonomi, atau masalah kesehatan. Maka ketika bersikap jahat, misalnya merendahkan, menghina, atau menyakiti, hal itu bisa menambah beban yang sudah berat dalam hidup orang tersebut.
Maka, sebelum menilai orang lain, coba nilai diri kita sendiri. Sebelum menghakimi orang lain, coba kroscek dulu diri kita sendiri. Sebelum menganggap orang lain lebih berdosa, coba periksa kehidupan diri kita sendiri. Jangan sampai kita merasa paling benar. Sebelum berkata-kata, coba dipikirkan. Apakah kata-kata kita bisa menyakiti orang lain? Apakah ucapan kita membuat orang lain jadi insecure dengan dirinya? Atau bikin orang lain memendam kepahitan di hatinya?
Jangan mudah menghakimi jika tidak mengerti. Jangan mudah berprasangka jika tidak memahami. Dan jangan menjatuhkan orang lain demi kepentingan dan ego yang tidak terbendung. Hiduplah sewajarnya menjadi manusia. Jangan jadi manusia toxic buat orang lain.
Terkadang, kita memang harus banyak belajar untuk kroscek diri sendiri daripada sibuk mengurusi kehidupan orang lain, yang sebenarnya bukan urusan kita. Jangan hanya karena kita merasa lebih pintar, lebih benar, atau lebih punya kuasa lalu dengan sesuka hati menganggap orang lain paling berdosa, paling negatif atau paling nggak benar. Terlalu gampang menganggap orang lain paling banyak salah. Ingat, jangan jahat di kehidupan orang lain.
Jangan sampai jahatnya kita, menganggu kehidupan kita sendiri. jangan sampai jahatnya kita, malah menutup pintu berkah yang seharusnya kita terima. Jangan sampai jahatnya kita, menghalangi kuasa Allah bekerja atas hidup kita.
Mumpung bulan puasa, belajarlah menjadi pribadi yang lebih baik itu berarti jangan jahat di kehidupann orang lain. Jangan jahat pada orang lain, apalagi pada diri sendiri.
Terima apa yang sudah ada. Syukuri saja apa yang sudah dicapai. Tidak perlu jadi jahat di kehidupannya orang lain. Agar doa mereka tidak menghambat langkah hidup kita ke depan. Jangan jahat di kehidupan orang lain, berusahalah untuk tidak menjadi sumber luka dalam perjalanan hidup orang lain. Jika tidak bisa selalu memberi kebaikan besar, setidaknya kita bisa menahan diri untuk tidak menyakiti.
Sebab dalam kehidupan yang sudah penuh tantangan, kehadiran kita seharusnya menjadi penenang, bukan penambah beban orang lain. Karenanya, lebih baik mengabdi di taman bacaan atau baca buku, agar tidak perlu urusi hidup orang lain. Salam literasi!
