Dan Engkau yang Sedang Menua (Pensiun)

Dan engkau yang sedang menua (pensiun), bukan menjadi lemah. Tapi sedang diberi karunia untuk memahami yang tak sempat dibaca ketika muda. Dan engkau yang sedang menua, itu hanya tanda fase kehidupan ketika seseorang bertambah usia, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara pengalaman dan perjalanan batin. Bukan menjadi lemah, bukanlah berarti  kemunduran apalagi ketidakberdayaan. Justru sedang diberi karunia, karena usia tua adalah  anugerah, bukan beban. Ada sesuatu yang ditambahkan, bukan diambil. Untuk memahami yang tak sempat dibaca ketika muda, sebagai pelajaran hidup untuk lebih bijaksana dari yang dulu terlewat karena keterbatasan emosi, ego, atau pengalaman saat muda.

 

Jangan takut tua, jangan takut pensiun. Sebab menua adalah proses pendewasaan batin, bukan sekadar penurunan fisik. Seiring bertambahnya usia, seseorang memperoleh ketenangan, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami hidup secara lebih dalam, atas hal-hal yang dahulu belum mampu dipahami saat masih muda dan tergesa-gesa.

 

Menua bukan tentang kehilangan kekuatan, tetapi tentang mendapatkan pemahaman.

Ketika menua, kita tahu. Waktu tak lagi dikejar tapi disyukuri. Dan engkau yang sedang menua, bukan menjadi lemah. Tapi sedang diberi karunia untuk memahami yang tak sempat dibaca ketika muda.

 

Engkau kini sampai di musim hidup di mana kecepatan bukan lagi ukuran, melainkan kejernihan hati, dan lapangnya dada. Kini saatnya merawat diri, bukan mengejar dunia lagi.

 

Wahai jiwa yang telah lama berlari, kini bukan saatnya membuktikan apa-apa. Istirahatlah dengan penuh kesadaran, karena tubuhmu pun ingin dipeluk. Merawat diri di usia tua bukan keegoisan. Itu adalah bentuk syukur. Karena tubuh adalah titipan yang diminta kembali dalam keadaan sebaik-baiknya.

 

Pilihlah sunyi, hindari ramai yang menguras. Tak semua undangan layak disambut. Tak semua percakapan patut ditanggapi. Kini saatnya engkau memilih, bukan karena sombong. Tapi karena engkau paham bahwa damai lebih berharga dari sekadar ramai.

 

Tua bukan berarti usangtapi matang. Dan yang matang, tak mudah goyah oleh gaduh. Terangi usia dengan memberi tanpa perlu dikenal. Jangan risau jika kebaikanmu tak disebut. Jangan kecil hati bila kau dilupakan. Sebab tangan yang memberi di usia senja adalah cahaya yang disimpan Tuhan diam-diam.

 

Di usia tua, kebaikan tak lagi untuk pujian, tapi untuk persiapan pulang. Maafkanlah masa lalu, lembutkanlah hati sendiri. makin tua bukan makin jadi. Tapi makin tua makin terasa bahwa yang terberat bukan beban di Pundak tapi luka yang belum selesai. Lepaskanlah!

 

Engkau tak harus menang atas semuanya. Engkau hanya perlu damai untuk menjalani sisa usia. Maaf yang engkau berikan hari ini mungkin tak mengubah orang lain. Tapi ia menyembuhkan dirimu sendiri. Kebenaran tak perlu diributkan terus – menerus. Nanti, ada masanya engkau menjelaskan. Tapi kini, engkau cukup menjadi bijak, menjadi teduh. Menjadi sejuk bagi sekitarmu.

 

Tertawalah tanpa beban, berdoalah tanpa tergesa. Isi waktu bukan dengan penyesalan, tapi dengan syukur tanpa berkesudahan. Atas segala yang masih bisa dinikmati hari ini. Usia tua adalah surat cinta dari langit. Isinya adalah kesempatan untuk kembali kepada diri, kepada Tuhan, dan kepada hidup yang sebenar-benarnya.

 

Maka ketika mentari datang dan engkau masih terbangun, katakan dalam hatimu:

Terima kasih, yaa Allah. Hari ini aku tidak harus hebat. Aku hanya ingin cukup. Cukup sehat, cukup damai, dan cukup tahu arah pulang.

 

Dan inilah engkau yang sedang menua (pensiun) …

Exit mobile version