Jabatan Itu Nggak Ada Nilainya

Di kantor atau perusahaan, bisa jadi seorang staf dianggap tidak punya kontribusi. Apalagi seorang office boy sudah pasti dianggap “tidak penting”. Suaranya diredam. Idenya ditutup. Bahkan keneradaannya sering diabaikan. Bukan karena staf atau office boy tidak mampu. Tapi  karena ada orang yang takut tersaingi, apalagi yang merasa jadi atasan.

 

Faktanya hari ini, banyak orang yang merasa jadi “atasan” takut disaingi oleh “bawahan”.  Padahal, pangkat atau jabatan tidak pernah menentukan nilai manusia. Apalagi soal harga diri dan martabat seseorang, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jabatan. Sebab jabatan itu cuma peran, bukan identitas. Jabatan hanyalah posisi sementara yang kita jalani dalam sistem kerja atau sosial.

 

Hari ini seseorang bisa jadi direktur, bisa jadi ketua atau dianggap punya jabatan. Tapi besok bakal pensiun, pasti berhenti dari semua label yang pernah disandangnya. Karenanya, jangan terlena dengan pangkat atau jabatan. Justru penentunya adalah nilainya sebagai manusia. Akhlak dan karakter baik yang dimilikinya.

 

Manusia bernilai bukan karena titel, gaji, atau kekuasaan. Tapi karena manusianya: punya hati, pikiran, perasaan, dan hak untuk dihormati. Bayi yang baru lahir sudah bernilai, padahal belum punya jabatan apa-apa. Nilainya tetap utuh sejak lahir. Nilai manusia melekat sejak lahir.

 

Kecerdasan tidak mengenal seragam. Kreativitas tidak melekat pada pangkat. Ide cemerlang tidak memilih jabatan. Ketika bos atau atasan mau memberi ruang, maka produktivitas dan kebenaran akan menemukan jalannya. Office boy atau staf juga punya kapasitas, punya kontribusi di kantor. Maka bila sang manajer kehilangan jabatannya, bukan karena kurang pintar. Tapi karena gagal memanusiakan manusia, tidak menghargai nilai orang lain atau bawahannya.

Jadi, kepemimpinan atau jabatan bukan soal posisi, tapi soal sikap. Merendahkan bawahan adalah tanda rapuhnya karakter. Hilangnya nilai-nilai sebagai manusia. Dan orang besar sama sekali tidak takut pada orang hebat, mereka justru memberi ruang.

Entah kenapa, jabatan sering bikin ilusi “lebih tinggi”. Jabatan sering dianggap simbol kesuksesan, sehingga orang tanpa jabatan dianggap “lebih rendah”. Padahal itu ilusi sosial. Jabatan hanya menentukan fungsi, bukan harga seseorang. Justru karakter jauh lebih penting daripada posisi. Kejujuran, empati, tanggung jawab, dan cara memperlakukan orang lain adalah hal yang benar-benar mencerminkan kualitas manusia. Orang dengan jabatan tinggi tapi merendahkan orang lain nilainya justru dipertanyakan secara moral.

 

Jangan lupa, jabatan bisa hilang, nilai manusia tidak akan hilang. Jabatan bisa dicabut, kontrak bisa habis, perusahaan bisa bangkrut. Tapi nilai manusia, sebagai makhluk bermartabat, tetap ada, apa pun kondisinya. Ketahuliah, jabatan hanya menentukan apa yang kita kerjakan, bukan siapa kita. Dan manusia pantas dihargai bukan karena posisinya, tapi karena kemanusiaannya.

 

Boleh jadi, hari ini kita berada di atas. Besok bisa jadi kita belajar dari mereka yang pernah kita abaikan. Mari bekerja dengan hati. Karena manusia bukan alat, dan potensi tidak pernah punya jabatan tetap. Jabatan itu bukan apa-apa!

Exit mobile version