Kerjaannya cuma penjual sayur di pasar tradisional Taitung di Taiwan Timur. Hidupnya sangat hemat, bahkan cenderung pelit pada diri sendiri. Dia makan nasi kecap tahu setiap hari dan tidur di lantai. Tapi dunia dibuat gempar ketika tahu ke mana larinya uang hasil jualan sayurnya puluhan tahun?
Namanya Chen Shu-chu, dia tidak berlimpah harta dan hanya penjual sayur. Tapi dia masih bersemangat mendonasikan sebagian besar penghasilannya receh menjual sayur sehari-hari untuk tujuan amal. Selama hidupnya, Perempuan ini telah menyumbangkan Rp 3,2 miliar untuk membangun perpustakaan sekolah dan Rp 4,5 miliar untuk panti asuhan dan rumah sakit. Totalnya hampir Rp 7,7 miliar! Uang sebanyak itu bukan dari warisan. Tapi dikumpulkan receh demi receh dari keuntungan menjual kol, kangkong, dan bayam selama 50 tahun. Dia bekerja 18 jam sehari tanpa libur.
Sebagai UMKM, usaha Chen tidak ada di lantai bursa. Baginya, uang hanya berguna bila dipakai untuk membantu orang yang membutuhkan. Karena uang banyak bila tidak disumbangkan hanya tumpukan kertas semata. Tiap keuntungan dari usahanya, setelah dipotonga untuk pengeluaran pribadinya, selalu disumbangkan. Sikapnya yang dermawan, membuat hidupnya jauh dari kemewahan. Bahkan hidupnya masih bergelut dengan kemiskinan. Tapi hebatnya, dia merasa bahagia setelah menyumbang dan membantu orang lain.
Bukan tanpa sebab, Chen harus meninggalkan bangku sekolah untuk menopang keluarga di usia muda. Ibunya meninggal usai persalinan yang sulit dan saudara laki-lakinya menyusul sang ibu beberapa tahun kemudian. Semuanya karena keluarga Chen tidak mampu membiayai perawatan kesehatan. Alih-alih membuatnya menjadi orang yang kikir, kemiskinan dan kesulitan hidup di masa lalu membuatnya lebih dermawan kepada orang-orang yang lebih malang daripada dirinya. Hidupnya penuh sejarah pahit.
Chen Shu-chu, hanya penjual sayur dari Taiwan. Tapi hidupnya mengutamakan memberi daripada menerima. Dengan gaya hidup sangat sederhana, ia menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk pendidikan dan kebutuhan anak-anak. Dia percaya bahwa uang lebih berguna bagi mereka yang membutuhkan daripada disimpan sendiri. Beberapa prinsip hidupnya patut dicontoh. Chen berprinsip bahwa uang tidak dibawa mati, sehingga lebih bermanfaat jika disumbangkan untuk membantu orang lain. Baginya, saat memberi harus tulus. Karena memberi bukan tentang seberapa banyak uang yang disumbang, melainkan seberapa besar manfaat uang tersebut bagi orang lain. Hiduplah sederhana dan hemat, dia hanya makan nasi dan tahu yang diawetkan, serta tidak memprioritaskan barang-barang mewah. Selalu kerja keras hingga 18 jam sehari, enam hari seminggu di pasar untuk mengumpulkan dana yang akan disumbangkan. Dan Chen selalu menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam membantu orang lain, terlepas dari statusnya sebagai penjual sayur sederhana.
Atas kedermawanannya itu, Chen masuk dalam daftar bergengsi “100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” versi Majalah Time tahun 2010, menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award, dan diakui sebagai salah satu Pahlawan Filantropi oleh Forbes Asia.
Saat ditanya, kenapa Chen tidak menikmati uangnya untuk jalan-jalan atau beli rumah bagus? Katanya, “Uang itu hanya berguna jika digunakan untuk membantu orang yang membutuhkannya. Kalau cuma ditumpuk, dia cuma kertas. Dan setiap orang bisa menyumbang, bukan hanya saya”. Ini bukan tentang jumlah uang yang dihasilkan tapi bagaimana kita menggunakan uang. Ternyata, uang tidak begitu penting karena setelah mati kita tidak akan membawanya.
Sebuah pelajaran penting, ternyata tidak semua filantropis kaya raya. Bersikap dermawan tidak harus berlimpah harta. Maka tidak mesti kaya dulu untuk memberi donasi atau sumbangan kepada yang membutuhkan. Salam literasi!
