Tahun 2025 lalu, OJK dan BPS merilis Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat sebagai hasil Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Khusus untuk dana pensiun diperoleh tingkat literasi dana pensiun berada di level 25,79%, sedangkan tingkat inklusi dana pensiun di 5,37%. Kondisi ini tergolong masih rendah. Karena dari 10 orang Indonesia, hanya 2,5 orang yang “tahu” dana pensiun dan hanya 0,5 (setengah) orang yang “punya” dana pensiun. Artinya, tiap 10 orang Indonesia tidak sampai 1 orang yang punya dana pensiun.
Karena itu, edukasi dana pensiun kepada publik sangat penting. Di samping untuk memberikan pemahaman akan pentingnya perencanaan masa pensiun, edukasi juga diperlukan untuk membangun kesadaran bahwa massa pensiun sama pentingnya dengan masa bekerja.
Pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi fase hidup panjang yang tetap membutuhkan kestabilan finansial, mental, dan sosial. Banyak orang baru menyadari pentingnya persiapan saat sudah mendekati usia pensiun. Banyak pekerja terlambat menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Karena itu, edukasi dana pensiun sangat penting dilakukan.
Setidaknya ada 7 (tujuh) alasan utama mengapa edukasi pensiun penting dilakukan?
- Meningkatkan kesadaran dini (early awareness). Sebagian besar pekerja aktif merasa pensiun masih jauh. Akibatnya tidak menghitung kebutuhan dana pensiun, tidak memahami inflasi dan risiko umur panjang, dan tidak memiliki strategi investasi jangka panjang. Padahal, semakin dini seseorang memahami pentingnya perencanaan pensiun, semakin ringan beban yang harus ditanggung setiap bulan.
- Mengurangi risiko “pensiun miskin”. Berbagai survei menunjukkan banyak pensiunan di Indonesia bergantung pada anak, tetap bekerja karena kebutuhan ekonomi atau mengalami penurunan kualitas hidup. Tanpa edukasi, orang cenderung mengandalkan pesangon saja (yang nyatanya tidka cukup), tidak memahami program pensiun seperti DPLK, dan tidak menghitung risiko biaya kesehatan. Edukasi membantu masyarakat memahami bahwa pensiun tanpa perencanaan = risiko finansial yang serius.
- Membantu perencanaan yang rasional, bukan emosional. Banyak keputusan keuangan didasarkan pada gaya hidup, tekanan sosial, dan keinginan sesaat. Karenanya, edukasi pensiun mengajarkan perhitungan kebutuhan dana (replacement ratio), pentingnya diversifikasi investasi, dan strategi kontribusi rutin dan konsisten untuk hari tua. Dana pensiun penting disiapkan keputusannya berbasis data, bukan sekadar perasaan.
- Mengantisipasi risiko umur panjang (longevity risk). Angka harapan hidup orang Indonesia saat ini mencapai 73 tahun. Setiap tahun semakin meningkat. Artinya masa pensiun yang dijalani setiap orang bisa 15–25 tahun setelah berhenti bekerja. Tabungan harus cukup untuk membiayai hidup lebih lama, selama pensiun. Tanpa edukasi, orang sering mengira dana Rp. 500 juta atau Rp. 1 miliar sudah cukup, padahal belum tentu, tergantung gaya hidup dan tingkat inflasi.
- Mendorong disiplin investasi jangka panjang. Program pensiun atau tabungan hari tua seperti DPLK, Program pensiun perusahaan, atau investasi pasar modal memerlukan konsistensi. Edukasi membuat peserta memahami manfaat compounding, risiko jika tidak punya dana pensiun, atau pentingnya evaluasi keuangan jangka panjang secara berkala
- Mengurangi bban sosial dan keluarga. Tanpa kesiapan finansial untuk masa pensiiun maka beban ekonomi akan berpindah ke anak, berpotensi konflik keluarga meningkat, dan ketergantungan sosial bertambah di usia lanjut. Edukasi pensiun membantu menciptakan generasi lansia yang lebih mandiri dan bermartabat, di samping memiliki kesinambungan penghasilan di hari tua.
- Mempersiapkan aaspek non-finansial. Pensiun bukan hanya soal uang, tetapi juga identitas diri, aktivitas pasca kerja, dan kesehatan menta. Edukasi pensiun membantu seseorang merancang aktivitas produktif di hari tua, rencana usaha, cara aktualisasi diri, dan peran sosial baru setelah tidak bekerja lagi.
Fakta hari ini, 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan transferan dari anaknya setiap bulan untuk memenuhi biaua hidup (ADB, 2024). Bahkan 8 dari 10 pensiunan atau lansia menggantungkan hidupnya dari anggota keluarga yang bekerja. Sementara di kalangan pekerja, saat ini 9 dari 10 pekerja sama seklai tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Kondisi ini bukan hanya memprihatinkann tapi menegaskan pentingnya edukasi dana pensiun secara terus-menerus.
Suka tidak suka, edukasi pensiun diperlukan. Karena tanpa perencanaan, masa pensiun bisa menjadi fase krisis. Dapat menimbulkan ancaman finansial di hari tua. Dengan edukasi, masa pensiun bisa menjadi fase kebebasan sekaligus kemandirian secara finansial. Bahkan untuk program DPLK, edukasi sangat penting untuk mendongkrak tingkat literasi dan inklusi dana pensiun, termasuk memengaruhi partisipasi, loyalitas, dan keberlanjutan program.
Ketahuilah, masa pensiun setiap orang Indonesia semakin panjang durasinya, bisa 15 hingg 25 tahun kehidupan setelah berhenti bekerja. Dan pastinya, biaya hidup pun semakin lama semakin besar. Masalahnya, sudahkah kita mempersiapkan masa pensiun kita sendiri? #YukSiapkanPensiun #EdukasiDanaPensiun #DPLKSAM
