Hikmah Puasa di TBM: Ada yang Kesepian di Tengah Keramaian

Bisa jadi, kesepian di tengah keramaian adalah paradoks batin. Tubuhnya hadir, tetapi jiwa terasa jauh. Secara fisik dikelilingi banyak orang, baik di kantor, di acara kpmunitas bahkan di media sosial banyak temannya. Namun secara mental dan emosional ia merasa terputus. Ada yang kosong dan terasa sepi.

 

Ternyata di zaman sekarang, keramaian tidak selalu berarti keterhubungan. Seseorang bisa berbicara, tertawa, bahkan berinteraksi aktif, tetapi tidak merasa dipahami. Yang hilang bukan suara, melainkan makna dalam hidupnya akibat tidak adanya koneksi emosional.

 

Di tengah hiruk pikuk dunia,sering kali orang hadir secara fisik, tetapi mengenakan “topeng sosial.” Ia menyesuaikan diri, menjaga citra, atau menahan perasaan. Akibatnya, yang hadir hanyalah peran, bukan dirinya yang utuh. Dan akhirnya, hadir bukan menjadi dirinya sendiri. Sepi di tengah keramaian.

 

Kesepian di tengah keramaian sering terjadi. Akibat kelelahan mental. Saat pikiran dipenuhi beban, overthinking, atau konflik batin, seseorang bisa “absen” secara psikologis. Ia ada di ruangan, tetapi pikirannya mengembara jauh. Entah kemana? Terjadi kekosongan makna.

 

Sungguh, keramaian tanpa makna terasa hampa. Percakapan dangkal, relasi yang sekadar formalitas, atau interaksi yang hanya transaksional membuat batin tetap sunyi. Sederhananya, kesepian bukan tentang jumlah orang di sekitar kita, melainkan tentang kualitas keterhubungan yang kita rasakan.

Seseorang bisa sendiri namun damai. Tapi ia juga bisa berada di pesta dan merasa paling sendirian. Kesepian di tengah keramaian adalah isyarat batin: bukan kita kurang orang, mungkin kita kurang ruang untuk dipahami atau kurang berani membuka diri. Itulah hikmah puasa di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

Tapi apapun kondisinya, lebih baik membaca buku dan mengabdi di taman bacaan. Salam  literasi!

Exit mobile version