Kita sering lupa, bahwa hidup punya batas waktu. Usia manusia di mana pun terbatas. Kalau waktu yang terbatas itu dihabiskan untuk memenuhi standar orang lain pasti semakin berat. Hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial: status, jabatan, gaya hidup, validasi tanpa benar-benar memahami apa yang kita inginkan, maka hidup terasa “dipinjamkan”, bukan dijalani. Kita bisa sukses menurut ukuran orang lain tapi kosong secara batin.
Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Sebab standar orang lain tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai personal kita. Setiap orang tumbuh dengan latar belakang berbeda, kondisi ekonomi berbeda. Bahkan minat dan bakat berbeda dan definisi tentang bahagia pun berbeda. Karenanya, memaksakan diri untuk mengikuti standar orang lain justru membuat kehilangan arah. Misalnya: “umur 30 harus punya rumah” atau “karier harus begini begitu” bisa membuat kita kehilangan fokus diri sendiri.
Apapun alasannya, standar orang lain pasti jadi tekanan. Membuat hidup jadi reaktif, bukan otentik. Saat hidup dikendalikan oleh standar orang lain, aakhirnya keputusan diambil karena takut dinilai. Bekerja karena gengsi, bukan panggilan. Menabung atau berinvestasi karena ikut tren, bukan rencana pribadi. Akhirnya hidup jadi responsif terhadap tekanan, bukan ekspresi nilai diri.
Banyak riset psikologi positif menunjukkan bahwa orang yang hidup sesuai nilai pribadinya lebih stabil secara emosional. Lebih tahan terhadap stres sosial dan kepuasan hidupnya jadi lebih tinggi. Artinya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh standar umum, tetapi oleh keselarasan antara tindakan dan nilai diri. Karenanya, autentisitas “sama dengan” kesejahteraan.
Hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Bukan berarti anti nasihat atau anti sosial. Tapi pesan bahwa menggunakan standar orang lain sebagai referensi adalah penjara. Lebih baik mengikuti kata hati dan jalan hidup sendiri. Dalam konteks finansial dan karier misalnya, banyak orang mengejar karier, jabatan, atau gaya hidup karena perbandingan sosial. Padahal ada yang bahagia dengan stabilitas. Ada yang memilih sederhana tapi bebas waktu. Dan ada yang mengejar makna, bukan sekadar angka. Jadi, standar hidup ideal seharusnya selaras dengan tujuan jangka panjang pribad, bukan sekadar kompetisi sosial.
Hidup terlalu singkat untuk membuktikan diri pada orang yang tidak membayar tagihan hidup kita. Mengejar validasi yang tidak pernah selesai dan mngorbankan nilai diri demi penerimaan sosial. Karena pada akhirnya, yang menjalani konsekuensi hidup kita bukan “orang lain”, tetapi diri kita sendiri. Maka hidup ini terlalu singkat bila dijalani dengan standar orang lain. Lebih baik membaca buku atau mengabdi di taman bacaan. Salam literasi!
