Ini cuma pertanyaan sederhana, di mana kita bisa lihat anak-anak usia sekolah membaca secara bergerombol? Di perpustakaan sekolah tidak, di jalanan tidak apalagi di rumah. Tapi kalau mau lihat anak-anak nongkrong bergerombol pasti banyak tempatnya, anak-anak yang main game online bareng juga banyak. Apalagi anak-anak yang minta jajan tanpa tahu orang tuanya punya uang atau tidak, pasti lebih banyak.
Sekarang ini, sudah 9 tahun jalan TBM Lentera Pustaka berkiprah, untuk sediakan akses baca dan membangun kegemaran membaca anak-anak. Tidak mudah memang, apalagi di wilayah yang sebelumnya tidak punya akses baca. Tapi kini, sekitar 200-an sudah punya jadwal baca dan belajar calistung yang tetap. Mereka sudah tahu jadwal, hari apa dan i berapa melangkah ke taman bacaan. TBM Lentera Pustaka boleh dibilang sudah jadi “ikon” di Kec. Tamansari Kab. Bogor. Ada pergerakan massa (anak-anak dan ibu-ibu) yang secara rutin ke TBM Lentera Pustaka.
Setelah berjuang sepenuh hati, kini literasi dan taman bacaan bukan lagi narasi yang apik di atas kertas atau di ruang diskusi. Tapi bukti kalau konkret tentang dampak nyata eksistensinya di tengah masyarakat. Literasi bukan lagi angan-angan, taman bacaan tidak lagi obsesi. Tapi realitas yang hidup dan tumbuh bersama pengguna layanannya. Semuanya karena komitmen dan konsistensi semata.
Literasi memang harus lahir dari hati, bukan lagi diskusi. Tidak ribut soal pengembangan, tidak tergesa soal pengguna layanan. Tapi cukup konsisten saja dalam berkegiatan. Agar lebih jujur program, lebih disiplin dalam mengelola, dan yang penting energinya tidak terkuras ke hal-hal yang tidak perlu. Cukup pengabdian sepenuh hati yang dikobarkan.
Literasi pasti jujur. Tidak mungkin berdampak bila taman bacaan tidak diurus. Tidak akan banyak pengguna layanan bila tidak dikelola dengan sepenuh hati. Karena
semesta tidak bekerja dengan cara ajaib seperti dongeng. Tapi dengan cara yang sunyi dan masuk akal. Semesta merespon kesungguhan, bukan sekadar harapan kosong. Ketika hati, pikiran, dan tindakan berjalan searah di taman bacaan, maka dunia seolah membuka pintu-pintu kecil yang sepertinya “tertutup”. Tentu, bukan karena semesta berubah, melainkan karena kita teruji konsisten dan benar-benar menjadikan taman bacaan sebagai jalan pengabdian. Berkiprah dan melangkah tanpa pamrih.
Mungkin ini, jadi reminder buat saya dan literasi. Bila literasi didominasi oleh diskusi dan narasi, terlalu sulit untuk mengukur dampaknya. Apalagi bila didominasi oleh gosip, drama, dan urusan personal orang lain, mungkin yang perlu dibenahi bukan literasinya tapi niat dan visi kita sendiri dal berliterasi. Sebab siapapun yang sedang membangun peradaban literasi dan fokus mengurusi umat sekecil apa pun skalanya, pasti selalu menjaga komitmen dan konsistensinya dalam bentuk nyata. Agar waktu dan energinya tidak terbuang percuma. Memang, literasi tidak lagi cukup niat baik tapi mengubahnya jadi aksi nyata.
Yukk, bergerombol membaca bukan yang lainnya. Salam literasi!
