Indikator Kerja Nyata Literasi di TBM

Suatu kali, ada yang bertanya tentang indikator kerja nyata literasi di taman bacaan? Agak sulit menjawabnya. Tapi karena berkat bantuan AI, diperoleh indikator kerja nyata literasi yang bisa dipakai untuk menilai taman bacaan (atau program literasi lain) berdasarkan praktik baik yang konkret. Bukan sekadar narasi, jargon, atau kemasan acara apalagi diskusi.

 

Tentu saja, indikator kerja nyata literasi disusun dari yang paling mendasar sampai paling berdampak. Sebab tujuan besar literasi adalah “dampak kepada masyarakat”, seberapa banyak warga yang terlibat dalam aktivitas taman bacaan. Literasi yang inklusif itu acuannya seberapa besar keterlibatan warga dan seberapa besar dampak yang dirasakan masyarakat? Tanyanya ke warga atau ke masyarakat, bukan ke pengelola TBM.

 

Menarik untuk jadi perhatian bersama, beberapa hal yang menjadi indikator dari kerja nyata literasi di taman bacaan masyarakat, antara lain:

  1. Kehadiran dan konsistensi sebagai fondasi utama. Literasi tidak hidup tanpa kehadiran rutin, tanpa konsistensi dalam aktivitas di taman bacaan. Ini soal frekuensi kita ada di taman bacaan, berapa hari atau lama taman bacaan beroperasi? Pertanyaan kuncinya, apakah taman bacaan benar-benar buka secara rutin (hari & jam jelas)? Berapa hari aktif per bulan, bukan per tahun? Apakah ada pengelola yang hadir, bukan hanya relawan sesekali? Karena itu bukti konkret adalah 1) jadwal buka yang konsisten, 2) Catatan kehadiran pengelola, 3) TBM yang benar-benar digunakan, bukan terkunci. Tanpa ini, indikator lain tidak relevan.
  2. Akses dan pemanfaatan buku. Buku di TBM bukan pajangan, bukan juga gudang buku. Apakah buku mudah diambil, dibaca, atau dipinjam? Apakah anak memilih buku sendiri? Apakah ada sirkulasi (buku keluar–masuk) yang dirotasi? Bukti konkretnya adalah buku mudah diakses, ada jejak buku lusuh karena dibaca, dan ada kartu baca atau catatan peminjaman sederhana (tidak harus formal). Semain banyak buku yang dibaca, maka semakin baik. Bukan semakin banyak koleksi bukunya tapi sedikit yang membaca.
  3. Interaksi manusia dan relasi literasi. Sebab literasi tumbuh lewat relasi, bukan rak buku. Pertanyaan kuncinya, apakah ada orang dewasa yang mendampingi membaca, berdialog dengan anak? Apakah anak datang karena ingin, bukan disuruh? Bukti konkret: 1) anak betah berlama-lama, 2) terjadi percakapan tentang isi bacaan, dan 3) anak-anak ke TBM sekalipun tidak ada acara. Literasi berarti hubungan jangka panjang, harus dibuktikan dengan keberlanjutan.
  4. Aktivitas bermakna (bukan event). Literasi bukan tempat event tapi aktivitas yang relevan. Apakah ada kegiatan rutin (mingguan/bulanan)? Kegiatan yang sederhana tapi konsisten? Apakah kegiatan di TBM lahir dari kebutuhan anak, bukan proposal? Contoh aktivitas nyata seperti membaca bersama, bermain di TBM, menulis cerita sederhana, diskusi buku atau menggambar dari cerita. Selalu ada kegiatan rutin yang dilakukan di taman bacana.

  1. Keterlibatan komunitas lokal. Taman bacaan hidup jika akar lokalnya kuat. Apakah orang tua atau warga sekitar tahu fungsi taman bacaan? Apakah warga merasa memiliki, bukan hanya “menumpang”? Apakah ada peran lokal (ibu, relawan, warga sekitar)? Bukti konkretnya: warga ikut menjaga ruang, ada kontribusi non-dana (waktu, tenaga), dan taman bacaan tetap berjalan meski tanpa tamu luar
  2. Dampak perilaku dan manfaat. Dampak literasi sering kecil tapi nyata. Manfaatnya bisa dirasakan masyarakat. Perubahan yang bisa diamati: anak lebih sering membaca tanpa disuruh, anak berani bercerita/bertanya, anak disipling datang ke taman bacaan, anak mau menulis, menggambar, atau membuat cerita. Dampak tidak harus spktakuler, tapi konsisten terjadi.
  3. Kejujuran dan refleksi pengelola. Kerja nyata literasi selalu disertai kesadaran keterbatasan. Apakah pengelola berani mengakui kekurangan? tidak melebih-lebihkan capaian? Mau belajar dan menyesuaikan? Tanda bahaya bila semua info dan laporan selalu “sukses”, tidak ada cerita gagal, dan akhirnya lebih banyak foto dan medsos daripada proses. Biar bagaimana pun, literasi yang jujur “lebih esensi” daripada literasi pencitraan.
  4. Keberlanjutan tanpa sorotan. Literasi sejati tidak bergantung kamera. Apakah taman bacaan tetap berjalan tanpa proyek, tanpa CSR, atau tanpa event? Itu tanda kerja nyata TBM, tetap berlanjut tanpa sorotan.

 

Ringkasan indikator kerja nyata literasi

Aspek Indikator Nyata
Kehadiran Rutin & konsisten
Buku Dibaca & dipinjam
Relasi Ada pendamping
Aktivitas Kecil tapi berulang
Komunitas Terlibat aktif
Dampak Perubahan perilaku
Tata kelola Jujur & reflektif
Keberlanjutan Jalan tanpa sorotan

 

Mau sehebat apapaun diskusi literasi dan taman bacaan, tetap yang harus dijaga adalah indikator kerja nyata literasi di TBM harus tercapai. Karena literasi dan taman bacaan yang bekerja selalu bisa ditunjukkan, bukan hanya diceritakan. Selalu bisa dinyatakan, bukan sekadar didiskusikan. Salam literasi!

 

Exit mobile version