Siapa sih orang tangguh? Orang tangguh cukup memegang komitmen dan konsisten atas apa yang dipilihnya. Orang tangguh juga tidak perlu tampil mencolok, asal tetap percaya diri, berani mengambil risiko, dan dikenal konsisten mengerjakan yang jadi bagiannya. Bahkan, sering kali orang tangguh tampak biasa saja: diam, sederhana, dan tidak banyak bicara tentang apa yang sedang dihadapi. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Siapapun yang tangguh, tidak hidup untuk terlihat hebat, melainkan untuk tetap berdiri saat keadaan mencoba menjatuhkannya.
Tangguh tidak harus kemenangan. Ketangguhan sejati bukan pula pencapaian yang dipamerkan. Tangguh, karena ketahanan yang sunyi: kemampuan untuk bangun kembali tanpa sorakan, melanjutkan langkah tanpa tepuk tangan, dan bertahan tanpa harus menjelaskan betapa beratnya perjalanan yang ditempuh.
Orang tangguh tidak kebal terhadap rasa sakit, tetapi mereka memiliki daya pulih yang tidak mudah dilihat. Selalu berjuang sepenuh hati dan fokus pada tujuannya. Sebab, ketangguhan tidak selalu terlihat dari luar. Karena tampak luar atau penampilan bisa menipu. Ada orang yang tampak kuat namun rapuh saat diuji, dan ada yang terlihat biasa namun tidak runtuh ketika dihantam badai berulang kali. Setangguh apa kita?
Orang tangguh tidak sibuk membangun citra, tapi membangun fondasi. Sebab citra mudah runtuh. Tapi fondasi membutuhkan waktu. Orang tangguh lebih memilih memperkuat mental, disiplin, dan nilai hidup daripada terlihat mengesankan sesaat.
Tangguh, karena sulit dijatuhkan. Tidak bergantung pada validasi orang lain. Pujian dan kritik tidak mengendalikan arah tujuan. Ketika hidup tidak bergantung pada pengakuan orang lain, maka omongan, penilaian, dan keraguan dari luar akan kehilangan daya rusaknya sendiri. Orang tangguh tidak perlu drama. Alih-alih mengeluh, orang tangguh memilih untuk mengatur napas, merapikan diri, lalu kembali berjalan meski langkahnya tertatih.
Tangguh itu bertahan, yang dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten. Bukan dari ledakan semangat apalagi motivasi orang lain. Tetap bangun meski lelah, tetap disiplin saat tidak termotivasi, dan terus-menerus bertahan apapun kondisinya.
Di mata orang tangguh, jatuh adalah bagian dari proses. Memilih untuk tidak tinggal di posisi kalah terlalu lama. Segera bangkit, meski perlahan. Semakin tangguh karena sudah berdamai dengan realitas. Dan lagi tidak berharap hidup selalu mudah. Sadar bahwa hidup memang keras, maka mental tidak boleh goyah saat kenyataan tidak sesuai harapan.
Maka orang tangguh memang tidak selalu terlihat hebat di mata dunia. Tidak perlu pula mencuri perhatian, tidak mencari pengakuan, dan tidak selalu menang di permukaan. Namun saat badai datang, orang tangguh tetap berdiri bukan pergi. Selalu punya daya juang karena mental sudah terlatih menghadapi beratnya kenyataan.
Ketangguhan itulah yang diperlukan saat berkiprah di taman bacaan. Sebuah jalan sunyi pengabdian untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi. Seperti yang dilakukan relawan TBM Lentera Pustaka. Tetap mengabdi di taman bacaan, apapun kondisinya. Demi tegaknya literasi di kaki Gunung Salak Bogor. Dan dalam jangka panjang, ketangguhan relawan TBM inilah yang membuat literasi tetap bertahan, bertumbuh, dan tetap utuh di tengah hidup yang selalu digoda gawai dan digital. Salam tangguh!
