Saat ada yang bertanya, kenapa mau berkiprah di taman bacaan? Jawab saya sederhana, tidak semua hal diukur dengan uang. Berkiprah secara sosial di taman bacaan bukan urusan dunia tapi investasi akhirat. Bila ada yang berbuat baik dengan membangun masjid, maka saya memilih dengan membangun dan mengelola taman bacaan. Karena di taman bacaan, pasti tidak ada uangnya. Tapi hanya didasari oleh nilai-nilai sosial, kepedulian, dan semangat berbagi pengetahuan melalui buku-buku bacaan.
Motivasi utama berkiprah di taman bacaan adalah pengabdian. Banyak pengelola taman bacaan bekerja secara sukarela. Mereka terdorong oleh keinginan meningkatkan literasi masyarakat, membantu anak-anak mendapatkan akses buku, dan menciptakan ruang belajar yang positif. Jadi motivasinya lebih pada pengabdian sosial, bukan mencari keuntungan materi atau uang.
Jangan lupa, berbuat baik atau berkontribusi bisa berupa banyak hal, bukan hanya uang. Dalam kegiatan taman bacaan, kontribusi dapat berupa menyumbangkan buku, membimbing anak-anak yang membaca, menjadi relawan, membantu mengelola kegiatan membaca, atau menyediakan ruang atau fasilitas baca. Artinya, peran seseorang tidak selalu diukur dari uang yang diberikan. Itulah tanda taman bacaan lebih mengutamakan nilai sosial dan pendidikan. Sebab taman bacaan sering menjadi tempat untuk menumbuhkan minat baca, membangun komunitas belajar, dan memperluas wawasan anak-anak dan masyarakat. Bagi sebagian orang, mungkin nilai-nilai sosial dianggap tidak penting daripada keuntungan finansial. Iya tidak apa-apa.
Dalam hidup, uang memang diperlukan tapi bukan tujuan utama. Uang tetap dibutuhkan untuk membeli buku, merawat fasilitas atau mengadakan kegiatan. Karenanya di taman bacaan, uang sebagai alat pendukung, bukan tujuan utama dari kegiatan sosialnya.
Hari ini, banyak orang bekerja keras bertahun-tahun untuk mengisi “rekening dunia” dan akhirnya akan ditinggalkan. Rumah, mobil, saldo bank dianggap “milik saya” padahal itu semua hanya harta yang dititipkan sementara untuk ahli waris. Maka jangan jadi kurir seumur hidup, cari uang mati-matian tapi tidak bisa dinikmati atau berbagi secara sosial. Rumus kekayaan itu sederhana: “apa yang dimakan akan habis, apa yang dipakai akan using dan hanya yang disedekahkan yang akan kekal”.
Maka jangan hanya mengejar rekening bank atau rekening dunia. Tapi pindahkan isinya menjadi “rekening langit” yang tidak akan pernah habis. Jangan berhenti cari dunia tapi jadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.
Apa yang benar-benar milik kita adalah rekening langit, bukan rekening bank atau dunia. Karenanya, kiprah sosial di taman bacaan adalah ladang amal, yang dasarnya semangat berbagi ilmu, kepedulian, dan pengabdian sosial yang nilainya sama sekali tidak bisa diukur dengan uang. Sebuah pilihan investasi yang cerdas dan kekal walau tidak banyak yang mau melakukannya. Begitulah prinsip saya setelah 9 tahun berkiprah di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Salam literasi!
