Lebih Baca Buku atau Nggak Ngapa-ngapain daripada Stres Sendiri

Berhentilah pura-pura produktif, apalagi sok sibuk. Coba latih diri untuk bengong, bertindak melongo. Karena bengong atau melongo itu “kemewahan” otak yang paling mahal saat ini. Sebab ide kreatif justru muncul saat otak masuk ke area melamun. Cuma aktif waktu kita bengong atau istirahat. Aktivitas yang rileks, saat istirahat atau tidak fokus pada rutinitas.

 

Bengong itu bukan dosa. Tidak ngapa-ngapain pun bukan kesalahan. Melamun itu bukan aib. Jangn pernah merasa berdosa bila tidak ngapa-ngapain, justru itu kemewahan. Karena sekarang, banyak orang justru terlalu sibuk sehingga gemar mengerjakan yang bukan kerjaannya. Terlalu peduli pada urusan orang lain. Tiap detik scroll atau melirik medsos itu bukan istirahat. Tapi memaksa otak bekerja keras melebihi porsinya. Maka cobalah bengong, melamun atau tidak ngapa-ngapain.

 

Zaman begini banyak orang merasa otaknya lemot, kadang sering pusing, Itu bukan karena pekerjaannya berat. Tapi otaknya lelah akibat “rapid switching”, karena identitas dirinya terlalu cepat berganti. Pagi jadi motivator, siang pekerja keras, sore jadi korban, dan malam berubah jadi pemimpi. Berganti dari satu identitas ke identitas lain dalam waktu singkat. Semuanya bikin capek, gampang disorientasi, dan akhirnya sulit mempertahankan satu identitas dalam waktu lama.

 

Terkadang, multitasking itu hanya mitos. Multitalenta cuma obrolan diskusi di kalangan pemuja kesuksesan, bukan kisah nyata. Efisiensi juga tidak selalu baik. Dalam banyak sisi, multitasking atau efisiensi justru mengabaikan kualitas. Mengerjakan dua aatu lebih pekerjaan itu pasti menurunkan fokus dan kinerja. Bayangkan, bila otak dipaksa pindah fokus tiap 10 detik saat scrolling. Itulah yang diam-diam biki glukosa meninggi dan oksigen mengalir deras di kepala. Jadi gelisah, resah, dan jadi banyak yang dipengen. Benar nggak?

 

Tidak apa-apa bila gampang lupa. Tidak masalah kebanyakan bengong. Itu bukan berarti bodoh, bukan pula dosa. Sering lupa atau lemot itu karena otak terlalu sering terdistraksi. Sehingga otak tidak bisa lagi membedakan mana yang penting mana yang tidak penting. Semua hal dianggap darurat dan mendesak. Fokusnya bergeser pada orang lain bukan diri sendiri. Jadi sederhana saja, kurangi konsumsi konten instan atau kendalikan jadwal scroll. Cobalah bengong sejenak atau membaca buku bila mau lebih sehat. Sempatkan melamun atau jalan kaki ke warung kopi justru bisa menjaga kesehatan pikiran kita. Dan bila ada yang menyindir karena kebanyakan bengong, jawab saja: “Saya bengong untuk mengistirahatkan otak dari informasi yang tidak perlu dan memilih ide baru”.

Kita sering lupa, kesehatan otak bahkan mental itu dimulai dari kemampuan untuk tidak tahu segala hal. Nggak perlu tahu urusan orang lain. Dunia nggak kiamat kalau kita ketinggalan satu gosip viral. Kita lebih butuh banyak bengong dan istirahat. Lebih enak ngobrol nyata sambil ngopi daripada ngotot dapat validasi di dunia maya. Buat apa multitasking tapi stress. Bua tapa bilangnya efisien tapi dipikirin samapi 3 hari setelah dikerjakan? Lebih baik bengong atau baca buku, rileks dan betul-betul tenang.

 

Waktu istirahat ya rileks, jangan buka medsos. Sebab itu namanya pindah kerjaan bukan istirahat. Cobalah untuk bengong atau melamun, justru itu kemewahan otak paling mahal saat ini. Berhentilah pura-pura produktif dan sibuk. Biar nggak stress sendiri. Salam literasi!

Exit mobile version