Mengapa Kamu Selalu Terlambat Siapkan Pensiun?

Pensiun adalah satu-satunya kepastian dalam karier yang sering kita abaikan. Setiap orang yang bekerja pasti akan berhenti bekerja. Entah karena usia, kesehatan, atau kebijakan perusahaan. Namun anehnya, sebagian besar dari kita baru mulai memikirkan pensiun ketika usia sudah mendekati 50 tahun, bahkan lebih. Padahal, masa pensiun bisa berlangsung 15–25 tahun setelah seseorang berhenti menerima gaji tetap. Persiapan pensiun cenderung ditunda oleh pekerja di Indonesia.

 

Sebuah survei menyebut 24% pekerja (kamu) mengaku tidak memiliki rencana pensiun dan 34% lagi baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Dapat dikatakan, 60% tidak punya rencana pensiun atau terlambat mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Padahal idealnya, masa pensiun yang Sejahtera setidaknya harus dipersiapkan lebih dari 20 tahun, dengan cara menabung di dana pensiun untuk hari tua.

 

Pertanyaannya, mengapa pekerja (kamu0 selalu terlambat menyiapkan masa pensiunnya sendiri? Masalah terbesar dalam perencanaan pensiun adalah soal psikologis. Usia 25 atau 30 terasa terlalu muda untuk memikirkan hidup di usia 60. Otak manusia cenderung memprioritaskan kebutuhan yang terasa dekat: cicilan rumah, kendaraan, sekolah anak, liburan, gaya hidup. Pensiun dianggap masih lama, jadi tidak perlu dipersiapkan sedini mungkin. Perspesi yang salah.

 

Pensiun juga dianggap abstrak. Tidak mendesak, tidak terlihat. Padahal dalam skema iuran pasti seperti yang dikelola Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), waktu adalah faktor terpenting. Seseorang yang mulai menabung di usia 25 dengan nominal kecil bisa mengumpulkan dana jauh lebih besar dibanding mereka yang mulai di usia 40 dengan nominal dua kali lipat. Di dana pensiun, justru waktu bekerja untuk pekerja yang memulai lebih awal. Dan waktu pula yang akan menghukumnya bila menunda.

 

Hari ini, banyak pekerja merasa cukup karena sudah terdaftar dalam program JHT BPJS TK. Namun manfaat dari program dasar umumnya dirancang sebagai perlindungan minimum, bukan sebagai pengganti penghasilan penuh saat pensiun. Tanpa tambahan tabungan atau program pensiun sukarela, standar hidup saat pensiun hampir pasti turun. Program wajib seperti JHT hanya bisa meng-cover 10%-15% dari kebutuhan bulanan di hari tua. Masalahnya bukan pada sistemnya, tetapi pada ekspektasi pekerja yang terlalu optimistis, terlalu bergantung pada program wajib.

 

Harus diakui, hari ini kita hidup dalam era di mana keberhasilan diukur dari apa yang terlihat sekarang. Rumah, kendaraan, liburan, dan gaya hidup semuanya memiliki panggung di media sosial. Berlomba untuk budaya konsumtif dan status sosial. Media sosial jadi ajang pamer. Tidak ada yang memamerkan saldo dana pensiun, sudah menabung berapa per bulan dan berapa akumulasi dana untuk hari tuanya? Akibatnya, alokasi dana lebih sering diarahkan untuk kepuasan jangka pendek dibanding keamanan jangka panjang di waktu pensiun. Kita rela mencicil barang selama 5 tahun, tetapi ragu berkomitmen menabung untuk 25 tahun ke depan yang berguna di masa pensiun.

 

Pensiun jarang menjadi topik obrolan di meja makan atau diskusi publik. Pendidikan formal hampir tidak pernah mengajarkan bagaimana menghitung kebutuhan dana hari tua. Pekerja tidak di-edukasi, gimana menjaga standar hidup di hari tua saat tidak punya gaji lagi. Kita hanya diajarkan mencari pekerjaan, tetapi tidak diajarkan bagaimana berhenti bekerja dengan tenang? Sangat jelas, literasi dan obrolan soal dana pensiun sangat minin. Tanpa literasi yang cukup, banyak orang baru sadar pentingnya dana pensiun ketika usia produktif hampir habis. Pada titik itulah, risiko dan pilihan menjadi lebih berat: menaikkan iuran untuk dana pensiun atau menunda usia pensiun.

 

Pekerja selalu terlambat menyiapkan pensiun. Dan “terpaksa” harus membayar harga dari penundaan menjadi lebih mahal. Yang berarti harus menyisihkan lebih besar uang untuk tabungan hari tua, risiko kekurangan dana kian meningkat, dan ketergantungan pada anak atau keluarga saat pensiun menjadi lebih besar. Atau terpaksa terus bekerja ketika fisik tidak lagi sekuat dulu. Kita sering berpikir pensiun adalah akhir karier. Padahal tanpa persiapan, pensiun bisa menjadi awal dari kecemasan baru.

 

Maka saatnya mengubah pola pikir tentang pensiun. Pertanyaannya bukan lagi “berapa besar gaji kita hari ini?” melainkan “berapa lama kita ingin hidup mandiri tanpa gaji nanti?” Memulai lebih awal bukan soal nominal besar tapi soal disiplin dan konsistensi. Bahkan jumlah kecil yang disisihkan sejak usia 20-an di dana pensiun bisa menjadi fondasi kemandirian di usia 60-an.

 

Jangan lupa, pensiun bukan masalah orang tua. Tapi masalah orang muda yang belum sadar. Dan mungkin alasan kita selalu terlambat adalah karena kita terlalu sibuk membangun kehidupan hari ini, tanpa memastikan kehidupan esok tetap berdiri. Salam literasi! #YukSiapkanPensiun

Exit mobile version