Ada benarnya sih, ungkapan yang menyebut “Jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja”. Karena memang, bungkusnya bisa indah tapi belum tentu isinya. Bisa bungkusnya cakep tapi isinya jelek. Atau bungkusnya buruk tapi isinya sangat bagus. Begitulah realitas yang sering terjadi.
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Seperti pepatah di taman bacaan, “don’t judge a book by its cover”. Saat kita melihat buku, yang pertama terlihat memang sampulnya: warna, desain, judul. Tapi buku bisa dipahami dari isinya. Tentang pengetahuan, pemikran, cerita, atau makna. Tentu setelah membacanya.
Di taman bacaan, ternyata memang sampul tidak selalu mencerminkan kualitas isi buku. Ada buku dengan desain sederhana tapi isinya sangat dalam dan mengubah cara pandang hidup pembacanya. Sebaliknya, ada juga yang tampilannya menarik tapi isinya biasa saja. Begitu pula manusia, ada yang merekayasa diri ada pula yang apa adanya saja. Semuanya demi citra.
Terburu-buru menilai dari bungkusnya belum tentu valid. Sebab tidak ada hasil yang baik tanpa proses. Dan setiap proses butuh waktu. Seperti membaca halaman demi halaman, memahami seseorang juga butuh proses. Tidak cukup hanya melihat penampilan, latar belakang, atau kesan pertama. Kita harus menyelami lebih dalam, untuk tahu apa dan bagaimananya? Maka, jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Karena setiap orang punya “cerita”. Sama seperti buku yang punya alur dan pesan tersembunyi, setiap orang punya pengalaman, perjuangan, dan nilai yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Begitulah kesan kuat setelah berkiprah 9 tahun lebih di taman bacaan. Ketika anak-anak sedang membaca buku, duduk di lantai dan belajar. Bahwa semuanya sama dan setara. Tidak ada yang Istimewa, kecuali proses yang dijalani dengan penuh komitmen dan konsistensi. Anak-anak yangg tadinya tidak punya akses baca kini jadi rajin membaca. Tadinya hanya berdiam diri, kini berubah penuh energi. Semuanya, bukan dari bungkusnya tapi dari isinya. Memang manusia, bukan dilihat dari status atau pangkatnya. Tapi dari ikhtiarnya dalam berbuat baik dan menebar manfaat kepada sesama.
Maka, bila kita berkecukupan biarlah tetap rendah hati. Bila kita dalam kekurangan jangan sampai menjadi rendah diri. Karena manusia dinilai dari harkat dan martabatnya. Bukan dari penampilan dan materi belaka. Sebab bungkusnya bagus, belum tentu isinya bermanfaat. Kadang yang “apa adanya” bisa jauh lebih terhormat dan lebih bisa dipercaya daripada yang “ada apanya” dengan segala trik dan sikap angkuhnya.
Memang seperti buku, manusia punya sampul dan isi. Sampul mungkin menarik perhatian, tapi hanya dengan ‘membaca’ lebih dalam kita bisa memahami makna sebenarnya. Maka bacalah. Karena membaca melatih kita untuk tidak cepat menghakimi, tapi belajar memahami, berpikir kritis, dan melihat lebih dalam. Dan yang penting, jangan pernah menilai seseorang hanya dari bungkusnya saja. Salam literasi!
