Sedih dan miris banget, saat membaca YBR (10), siswa kelas IV SD di Ngada NTT gantung diri karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Sebuah akumulasi diabaikannya hak hidup dan terbebas dari kemiskinan bagi masyarakat di daerah. Mungkin masih banyak lagi anak-anak sekolah yang mengalami kondisi sama di daerah lain. Lagi-lagi miris dan memprihatinkan.
Dengan tegas, negara dan pemerintah harus bertanggung jawab atas kasus ini. Presiden, Mensos, Mendikdasmen dan menteri terkait lainnya, Gubernur, dan Bupati harus secara terbuka meminta maaf dan memastikan kejadian seperti tidak terulang lagi. Jangan cuma nongol di TV hanya bilang “sedih dan prihatin”, itu tidak menyelesaikan masalah. Kok bisa, siswa SD hanya karena bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan pulpen untuk sekolah? Kok negara atau pemda tidak mampu bantu. Apa gunanya BLT, apa gunanya PKH? Percuma bikin kenyang di sekolah lewat MBG, bila masyarakatnya tetap miskin dan tidak berdaya secara ekonomi.
Sangat jelas, kejadian memprihatinkan ini bukan tragedi tunggal. Tapi “alarm keras” dari kemiskinan yang fatal dialami masyarakat. Neggara lalai soal ini, pemda abai terhadap hak dasar anak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak. Kepala Desa, Camat, Bupati “dosa besar” atas kejadian ini. Pemda buukan hanya bobrok tapi gagal melindungi rakyatnya. Anak SD sampai memilih mati karena alat tulis, jelas kita semua gagal sebagai bangsa!!!
Hai negara, halo Pemda. Ini bukan soal sederhana karena buku dan peupen. Kasus seperti ini akibat frustrasi sosial yang numpuk dan terjadi di daerah lain. Anak SD itu belum punya kemampuan mengelola emosi seperti orang dewasa. Rasa malu, takut dimarahi guru, merasa “gagal”, atau merasa jadi beban orang tua bisa terasa sangat ekstrem bagi mereka. Bila keluarga sedang kesulitan, anak bisa menyerap stres orang tua. Kalimat seperti “uang nggak ada” bisa ditafsirkan anak merasa bersalah. Maka membuat dirinya jadi “aku masalah”.
Belum lagi lingkungannya kurang aman secara psikologis. Takut dihukum, dibentak, dipermalukan di sekolah, atau dibanding-bandingkan. Untuk anak, hal-hal ini bisa terasa buntu: nggak tahu harus cerita ke siapa? Bahkan anak belum tahu apa itu kematian? Kadang tindakan ekstrem dilakukan tanpa benar-benar mengerti akibat akhirnya. Jadi, anak bunuh diri “karena tidak dibelikan buku dan pulpen” itu simbol kefrustrasian anak, bukan akar masalahnya. Akar masalahnya, ada pada negara ada di Pemda yang lalai terhadap kemiskinan dan hak pendidikan anak!
Ini bukan salah anak! Inilah salahnya sistem pendidikan. Salahnya sekolah, lingkungan, dan Pemda. Gagal menangkap sinyal tentang kemiskinan ekstrem, lalai terhadap hak pendidikan anak. Pendidikan cuma textbook, sekolah cuma formalitas. Hingga kehilangan empati terhadap keadaan anak. Kita semua salah, sebab kehilangan kepedulian atas soal-soal sederhana tentang buku dan alat tulis.
Jelas hari ini, anak-anak kita perlu ruang aman untuk bercerita. Untuk ber-aktualisasi ke mana? Sekolah perlu lebih peka, bukan hanya menjejali anak dengan pelajaran. Pemda datangi warganya yang miskin ekstrem, bantu mereka! Orang dewasa perlu sadar kata-kata dan sikap kita bisa terasa sangat berat bagi anak. Jangan hanya prihatin dan menyesal, perbaiki keadaan model begini. Karena masih banyak lagi di tempat lain kondisi seperti ini …!!
