Ingat, Membaca adalah Keberanian
Orang yang bisa membaca buku di tengah kesibukan atau waktu yang sedikit bukan aktivitas biasa. Tapi berani memilih berbeda dari orang kebanyakan hari ini. Berani memilih jalan hidup tanpa kehilangan kepribadiannya. Membaca adalah perlawanan terhadap euphoria gaya hidup, membaca jadi antithesis kebiasaan yang sia-sia. Maka siapapun yang berani membaca akan berkata, “Aku tidak menyerah, hanya memilih untuk melihat yang ada di teks.”
Misalnya, ketika seseorang baru saja mengalami kegagalan cinta dan memilih membaca dengan sahabatnya sambil bercerita betapa konyolnya dirinya terbuai cinta, itu bukan tanda “sok tahu”. Ketika seoarang anak pulang sekolah, masih mau membaca di taman bacaan lalu bercerita ke kawannya, itu butuh keberanian. Itulah cara menegaskan bahwa cinta dan Lelah tidak lagi menguasai dirinya. Dalam membaca, ada keberanian untuk melanjutkan hidup. Untuk menatap hari esok lebih optmis.
Maka jangan menunggu waktu luang apalagi bahagia untuk membaca. Kesalahan banyak orang adalah menunda membaca sampai waktunya tersedia, sampai semuanya sempurna. Padahal membaca yang asyik itu justru di saat sibuk. Seperti tetap sholat di tengah padatnya waktu. Waktu luang itu tidak akan pernah datang. Jika kita hanya menunggu, jika kita hanya memilih mana yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Kita tidak akan pernah membaca bila hanya menunggu dan tidak mau mengambil buku.
Cobalah membaca bahkan di rasa yang tidak baik sekalipun, membaca di kala waktu yang padat. Tetaplah membaca, bercerita dengan kawan, atau sekadar mengisi waktu senggang. Bila perlu, membacalah di saat sedih atau di tengah kekurangan diri sendiri. Karena membaca memang tidak menghapus luka, tapi memberi ruang bagi harapan. Dan kadang, satu bacaan kecil yang telah dimulai bisa menjadi awal dari keberanian besar untuk bertahan di hari esok.
Membaca, berarti memilih berani untuk tidak banyak omong!
